I Fenomeno Ronaldo berbicara keapda Four Four Two soal cedera mengerikan yang ia alami kala memperkuat Inter yang hampir merenggut karir sepakbolanya:

“Saya mengingat dengan jelas kala terbangun di kamar hotel saya dan menyadari saya sudah dikelilingi oleh para pemain dan dokter tim, Lidio Toledo. Mereka tidak mau mengatakan apa yang terjadi atau kenapa mereka di sana. Saya hanya meminta mereka untuk pergi dan melanjutkan diskusi mereka di tempat lain. Saya hanya ingin kembali tidur kala itu.

Namun saya justru diajak berjalan ke arah taman hotel. Mereka mengatakan jika saya tidak sadar selama dua menit dan karena alasan ini saya tidak bisa bermain di laga final menghadapi Perancis malam itu. Tentu saya tidak menerima kenyataan ini. Saya memiliki tugas untuk bermain di partai final dan tidak ingin mengecewakan orang lain.”

Cedera mengerikan di Inter –

“Hingga saat ini, 18 tahun berlalu, saya masih tidak ingin menyaksikan adegan di laga pertama Coppa Italia menghadapi Lazio. Setiap kali saya menyaksikan itu di TV, saya memilih untuk memalingkan muka dan pergi. Menyaksikan rekaman tersebut seakan membuat seluruh badan saya kembali merasakan kesakitan itu.

Tapi lucunya, momen tersebut justru mengasah karakter saya dan membuat saya menjadi sosok yang lebih baik dari yang lain. Semua hal yang saya lewati untuk bisa kembali pulih dan berman adalah ujian dan saya harus bisa melewatinya.

Laga itu adalah laga pertama saya usai absen enam bulan setelah menjalani operasi minor dan saya tidak menduga kembali mengalami cedera dalam periode sangat singkat. Pada April 2000, saya dipaksa untuk menjalani operasi berat dan proses panjang untuk pulih. Momen tersebut membuat saya merasa dunia seakan runtuh. Saya tidak bisa mempercayai itu.

Piala Dunia Korea Selatan dan Jepang tersisa dua tahun lagi, jadi saya memiliki target untuk bisa kembali sebelum gelaran tersebut. Namun tiba-tiba, saya kembali merasa peluang saya untuk fit di turnamen tersebut berada dalam ancaman besar.

Tidak ada jaminan proses pemulihan saya berjalan lancar yang membuat saya bisa merumput lebih cepat. Tidak ada kasus serupa yang juga pernah terjadi, jadi tidak ada kepastian berapa lama saya akan sembuh. Saya menghadapi cedera yang tidak ada satupun pemain yang pernah mengalaminya sebelumnya.

Jujur, apa yang dibutuhkan kala itu hanyalah kesabaran. Tidak ada yang mengetahui sampai kapan. Saya harus menikmati setiap proses penyembuhan, tanpa tahu kapan semua akan berakhir. Tak menutup kemungkinan hal ini bisa berlangsung untuk jangka waktu yang lama.

Saya masih ingat, delapan bulan sejak proses pemulihan berlangsung, saya masih belum bisa menekuk lutut saya kembali lebih dari 90 derajat. Ini jelas menjadi hambatan terbesar saya yang kala itu sudah mulai kembali berlatih fisik. Itu periode yang sangat sulit dalam hidup saya.

Kami sudah memasuki setengah proses penyembuhan, namun saya masih belum bisa menekuk lutut saya hingga 100 derajat. Tidak ada kelenturan di lutut saya. Itu sungguh mengerikan dan saya mulai merasa tertekan. Satu-satunya opsi yang tersisa adalah terus berlatih walaupun saya tidak tahu bagaimana hasilnya nanti apakah sesuai harapan atau tidak.”

Tetap kuat –

“Namun saya tidak pernah berpikir untuk menyerah. Di titik tersebut, saya hanya berpikir satu hal yang pasti yakni jika saya tidak memberikan apa yang saya miliki seluruhnya untuk kembali fit, saya tidak akan bisa bermain sepakbola lagi. Satu-satunya jaminan kala itu adalah jika gagal, saya harus pensiun. Setiap hari fokus saya hanya melewati berbagai sesi pemulihan untuk menyelamatkan karir saya.

Delapan bulan pasca cedera pertama, saya memutuskan untuk mendengar berbagai opini dari dokter di seluruh dunia. Bisakah mereka menjelaskan kenapa saya tidak bisa menekuk jauh lutut saya? Saya terbang ke Amerika dan bertemu dengan spesialis yang mengungkapkan jika tidak ada peluang bagi saya untuk kembali bermain. Solusi terbaik mungkin melakukan operasi baru untuk mengatasi apa yang menghambat lutut saya untuk bisa menekuk lebih jauh dan berharap bisa memberi tambahan 30 derajat lagi.

Saya tidak pernah mempertanyakan keinginan saya untuk fit kembali sesegera mungkin. Saya tidak pernah meragukan saya bisa kembali merumput. Satu-satunya hal yang meragukan saya adalah ilmu pengetahuan. Saya tidak yakin ada pengobatan yang bisa membantu saya untuk kembali bermain.

Saya bukan dokter, ataupun fisioterapis. Jadi saya belajar sendiri berbagai hal dari cedera saya ini. Berbagai luka sayatan dan jahitan di lutut saya tersebut tidak sebanding dengan image yang Anda harapkan dari seorang pesepakbola. Di sisi lain, sebuah keajaiban saya bisa kembali bermain. Mungkin itu adalah buah dari kerja keras saya.

Beruntung saya pulih tepat waktu. Usai hampir dua tahun mengalami berbagai kesulitan, saya kembali merasa fit. Perlahan saya kembali berlaga bersama Inter dan Pada Maret 2002, Luiz Felipe Scolari menyertakan saya dalam laga persahabatan Brazil – Yugoslavia. Saya hanya tampil 45 menit di laga perdana saya untuk Brazil dalam tiga tahun, namun itu cukup mengamankan satu tempat di Piala Dunia.

Ini adalah momen bersejarah dalam hidup saya karena jika berkaca kembali pada cedera yang saya alami, saya tidak pernah berpikir bisa kembali dan tampil di final Piala Dunia. Satu-satunya hal yang membuat saya bisa melewati semua ini adalah cinta saya akan sepakbola. Berbagai kesulitan yang saya alami mengasah saya menjadi pribadi yang lebih baik.”

Source: FourFourTwo

1 COMMENT

  1. dan setelahnya engkao pidah menjadi dedemit. sungguh tidak ada rasa terimakasih kepada inter
    hehehe

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here