Lazio – Inter akan menjadi laga yang menentukan siapa perwakilan terakhir dari Serie A yang akan berkiprah di Liga Champions. Bagi Inter, laga tandang mereka ke Olimpico mendatang hanya untuk mengejar satu hasil akhir: kemenangan. Seri atau kekalahan akan mengubur mimpi mereka untuk kembali tampil di kompetisi paling elit di Eropa tersebut.

Mantan kiper Inter, Alberto Fontanta berbicara kepada FCInter1908 dan kembali mengingat laga Lazio – Inter pada 5 Mei 2002 yang berakhir menyakitkan bagi La Beneamata:

“Ini adalah kesempatan besar bagi Inter yang akan menentukan nasib mereka apakah bisa meraih target atau tidak. Pada laga kontra Juventus kemarin saya menilai mereka tidak pantas kalah. Andai saja Pjanic di kartu merah dan kedua tim bermain 10 v 10, saya yakin hasil akhir akan berbeda. Spalletti musim ini melakukan kera luar biasa. Lolos ke Liga Champions akan memberikan dampak besar bagi rencana masa depan tim.”

Derby d’ Italia –
“Saya ingin menegaskan jika peran VAR sangat krusial karena sepakbola itu sangat cepat dan wasit hanya memiliki sepersekian detik untuk mengambil keputusan. Terkadang ada momen yang terlewat dari pandangan mata, namun berperan menentukan. Pada laga derby d’Italia kemarin, tak mengusir Pjanic yang melakukan pelanggaran keras terhadap Rafinha adalah sebuah blunder besar dari wasit. Walaupun demikian, tampil dengan kalah jumlah, justru Inter mampu menyulitkan Juve hingga akhir.”

Lazio –
“Saya harap kali ini Inter bisa menghapus kenangan buruk pada 5 Mei 2002 lalu. Simone Inzaghi bersama Lazio melakukan kerja luar biasa.

Apa yang terjadi 5 Mei 2002? Itu adalah mimpi buruk. Kami melewati musim yang luar biasa sebenarnya yang harus hancur di laga terakhir. Namun laga terakhir tersebut berhubungan langsung dengan laga sepekan sebelumnya. Kala itu kami menghadapi Chievo (berakhir 2-2) di mana kami seharusnya mendapatkan penalti kala Ronaldo di depan wasit dilanggar. Hasil seri ini membuat Juventus bisa memangkas jarak yang membuat kami menerima tekanan yang begitu besar.

Ada banyak pemberitaan tentang apa yang terjadi di ruang ganti pasca laga kontra Lazio, namun saya masih ingat apa yang terjadi. Ruang ganti begitu hening. Bahkan Anda bisa mendengar tetesan keringat yang terjatuh ke lantai. Tak ada yang bisa menerima apa yang terjadi. Itu adalah kekecewaan yang luar biasa. Ada yang mengatakan beberapa pemain berteriak-teriak, namun itu tidak benar. Sulit untuk menjelaskan apa yang kami rasakan di momen tersebut. Ada Ronaldo dan Materazzi yang menjadi pemain yang menangis paling kencang. Kami merasa hancur. Lalu Moratti masuk ke kamar ganti, sosok yang bagi saya masuk dalam kategori yang berbeda. Ia masuk dan berkata:

‘Ok anak-anak, kita coba lagi untuk memenangkan gelar musim depan.’

Hal ini membuat saya merasa kami beruntung memiliki sosok berkelas seperti dirinya yang tak bisa didapatkan di manapun.”

Source: FCInter1908.it

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here