Zlatan Ibrahimovic berbicara panjang lebar kepada Sky Sport dan membahas perjalanan karirnya di Serie A, terutama saat kedatangannya ke Inter dan akhir perjalanannya bersama I Nerazzurri dengan menerima pinangan dari Barcelona:

“Kala memutuskan meninggalkan Juventus, ada Inter dan Milan yang sama-sama tertarik ingin mendatangkan saya. Mino Raiola lalu bertanya:

‘Mana yang kau pilih, menjadi pesepakbola terbaik atau terkaya?’

Saya lalu menjawab:

‘Yang terbaik!’

Ia lalu menjawab:

‘Bagus! Yang terbaik dan juga kaya.’

Jadi ini bukan pilihan yang mudah antara Inter dan Milan, namun ini adalah pilihan yang berbeda yang memungkinkan saya masuk dalam sejarah. Milan adalah tim yang sudah memenangkan banyak gelar Liga Champions, sementara Inter selama 17 tahun belum pernah memenangkan Scudetto kembali.

Ada banyak pemain hebat seperti Ronaldo, Baggio, Bobo Vieri, Pirlo dan Seedorf yang pernah memperkuat tim ini, namun gagal mempersembahkan gelar tersebut. Kemudian saya berpikir: jika saya memilih Inter dan mempersembahkan Scudetto kepada mereka setelah 17 tahun menunggu, maka saya akan dikenang dalam sejarah selamanya, sementara jika saya memenangkan gelar seperti ini di klub yang sering menang, maka saya tidak berbeda jauh dengan kebanyakan pemain di sana. Itu kenapa saya memilih Inter.

Mancini dan Branca kala itu melakukan berbagai upaya untuk membawa saya ke Inter. Jelas ini bukan jalan yang diterima oleh Juventus, namun saya bersikeras dan sangat termotivasi. Bersama saya juga ikut Patrick Vieira. Di Inter sendiri sudah ada Crespo, Zanetti, Adriano, Maicon: tim ini sudah komplet dan yang perlu kami lakukan hanyalah bermain dan membawa pulang trofi tersebut dan tim kala itu layak memenangkannya. Di akhir musim kami berhasil mempersembahkan gelar Scudetto usai 17 tahun menunggu.”

Tahun kedua di Inter –
“Mancini adalah pelatih yang bagus. Ia adalah mantan pesepakbola dan tahu bagaimana membina hubungan dengan para pemainnya. Kala itu Roma mulai mengejar dan terus memangkas jarak poin dengan kami, sementara saya mengalami cedera. Namun di laga terakhir Mancini memaksakan saya bermain. Ia berkata:

‘Saya tidak peduli apakah ia cedera atau tidak, namun ia harus berlaga.’

Saya masih ingat laga tersebut. Kala itu hujan turun cukup deras dan laga masih imbang 0-0 hingga awal babak kedua. Saya kemudian masuk di menit ke 50. Tak lama berselang, saya menerima umpan dari lapangan tengah, membawa bola ke depan dan langsung melakukan tembakan, namun melebar.

Beberapa saat berselang, dengan skema dan pergerakan yang sama, saya kembali melakukan tembakan dan kali ini berbuah gol. Jika Anda kembali melihat foto-foto pada laga tersebut, tersirat raut kegembiraan di wajah semua orang. Pada momen tersebut Anda tahu Anda melakukan hal yang luar biasa.

Hal itu memberi dorongan adrenalin tersendiri bagi saya. Saya merasa jauh lebih kuat dari sebelumnya. Saya merasa seperti Hulk! Saya juga ingat di ruang ganti Roberto Mancini menyalami semua pemain dan mengucapkan terima kasih.

Saya selalu menang┬ádi semua tim yang saya bela dan ini adalah mentalitas saya. Ke mana saya pergi, saya menang.”

Mourinho –
“Kemudian setelahnya Mourinho datang. Mendatangkan Mou berarti Anda mendatangkan satu paket komplet: Anda mendatangkan pelatih dan juga media serta segala macamnya. Hal semacam ini membuat saya termotivasi. Ia sosok yang keras. Ia memberikan beban kepada para pemainnya dan juga tanggung jawab dan meminta timbal balik yakni hasil di lapangan.

Bersama Mou, kami berhasil kembali mengamankan Scudetto dan saya menjadi pencetak gol terbanyak bersama Inter. Ketika Anda menjadi pencetak gol terbanyak di Serie A, maka itu artinya Anda bisa melakukan hal yang sama di mana saja.

Sepakbola Italia adalah yang paling sulit dan sangat taktikal. Di Italia, saya memenangkan lima gelar dalam lima tahun, dengan dua atau tiga gelar SuperCoppa. Namun di akhir tahun ketiga saya bersama Inter, saya merasa butuh tantangan baru dan dorongan baru.”

Barcelona dan ciuman di logo mereka –
“Kemudian Barcelona datang, tim yang kala itu baru saja memenangkan Liga Champions. Namun bukan perkara mudah membawa saya dari Inter, terutama karena hubungan saya dengan Moratti sangat baik.

Namun usai beberapa kali pertemuan, semua bisa dirampungkan. Kontrak ditandatangani dan jumpa pers siap digelar. Saya disambut sekitar 70.000 penonton di stadion. Adrenalin saya bergejolak dan sangat termotivasi. Saya merasa ingin langsung bermain.

Ciuman di logo Barcelona? Pihak klub yang memintanya dan semua pemain melakukan itu. Saya tidak ingin mengacaukan hubungan dengan Barcelona, karena itu adalah awal perjalanan saya di sana. Saya ingin semua berjalan baik dan saya melakukan itu.

Bermain di Barcelona kala itu seperti bermain di tim impian. Ada Messi, Iniesta, Xavi, Henry, Dani Alves. Saya merasa seperti bermain Fifa.”

Krisis dengan Guardiola –
“Saya hanya semusim di sana. Enam bulan pertama, saya mencetak banyak gol dan kami memenangkan gelar Super Cup dan Super Copa Spanyol. Semua berjalan sempurna di enam bulan pertama. Namun kemudian kami mengubah gaya bermain dan taktik dan itu tak bagus bagi saya.

Pihak klub meminta saya berbicara kepada Guardiola. Saya berbicara kepadanya mengatakan jika ia mengorbankan pemain lain untuk Messi. Ia berkata mengerti hal itu. Dan di laga berikutnya ia mencadangkan saya. Setelahnya ia tak mau berbicara dengan saya atau menatap saya.

Saya masuk ke sebuah ruangan yang kebetulan ada dirinya, namun kemudian Pep pergi begitu saja. Saya mengerti ada yang salah dan masalah tersebut adalah dirinya. Ia tak bisa menyelesaikan masalahnya dengan saya.

Saya masih ingat di hari pertama ia berkata kepada saya jika para pemain Barcelona tidak datang dengan Ferrari atau Porsche. Itu artinya ia sudah menilai saya buruk sejak awal. Saya juga membaca hal yang sama juga menimpa Mandzukic dan Eto’o. Bagi saya itu terlalu kekanak-kanakan. Seorang pria harus bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.”

Source: FCInter1908.it

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here