Sebuah tas plastik berisikan sepasang sepatu bola, sebuah paspor dan banyak mimpi. Cavalese adalah tempatnya, sebuah kota yang terletak di provinsi Trentino di mana Inter kala itu mengadakan pemusatan pra musim di tahun 1995. Itulah bagaimana situasi kedatangan Javier Adelmar Zanetti. Saat itu bertepatan dengan 28 Juli dan itu adalah saat dimana sang legenda memulai perjalanannya.

Nomor punggung yang sudah diatur kala itu oleh sepakbola Italia membuatnya tak bisa memilih nomor lain. Kala itu ada Andrea Seno yang menggunakan nomor punggung 3 dan kemudian Francesco Dell’Anro mengenakan nomor punggung 5. Sehingga nomor 4 satu-satunya nomor yang bisa ia pilih.

Curva Nord langsung bisa menyadari talenta yang dimiliki Zanetti dan karena hal ini mereka menyanyikan nyanyian ‘Ia menggiring bola seperti Pele’ kepadanya. Sudah tidak ada lagi pemain yang akan mengenakan nomor punggung 4. Il Capitano, masih menjadi panggilan yang dikenal banyak orang uai empat tahun memutuskan pensiun dari dunia sepakbola yang menggambarkan apa yang ia berikan selama 20 tahun karirnya.

Sebagai teladan, ikon dan rasa hormat, ia berada di sana kala lawan-lawannya tertawa dan ia berada di sana seperti seorang anak kecil yang bahagia ketika dirinya mengangkat berbagai trofi yang ia menangkan, sebuah hal yang tak pernah lelah ia lakukan.

Sepertinya takdir memang sudah menuliskan ceritanya terhadap seorang bocah 20 tahun yang tiba di pemusatan latihan di Cavalese sebagai pewaris Inter dari Beppe Bergomi.

“Saat itu Inter juga mendatangkan Rambert karena dirinya menjadi pencetak gol terbanyak kompetisi kala itu. Sementara saya tidak dikenal dan mungkin hanya dinilai sebagai seorang quarterback yang memiliki talenta menjanjikan. Dan kala saya datang ke Inter, di Italia berlaku aturan satu tim hanya boleh memiliki tiga pemain asing. Kala itu sudah ada Rambert, Paul Ince, Roberto Carlos dan saya menjadi pemain asing keempat. Tak ada yang mengenal saya dan saya juga hanya beberapa kali saja mencicipi laga bersama tim nasional, namun tanpa sebuah capaian gelar yang berarti.

Namun hal yang paling indah adalah kala Inter membuat saya bisa segera merasa seperti di rumah sendiri. Saya bisa merasakan cinta, kasih sayang dan sebuah kepercayaan bagi bocah 20 tahun kala itu untuk membuktikan kualitas yang ia miliki. Dan saya masih di sini hingga saat ini.”

Kisah yang sarat akan berbagai perasaan: berbagai raihan gelar, kekalahan yang menyakitkan, kepuasan, kekecewaan, 16 trofi dimenangkan, pelukan, tangisan, teriakan, senyuman dan janji. Termasuk satu janji untuk selalu terhubung dengan warna hitam-biru.

Javier Zanetti (Buenos Aires, 10 Agustus 1973), memulai karirnya di Argentina bersama Tallares dan kemudian Banfield. Di tahun 1995 ia hengkang ke Inter di mana ia menyandang ban kapten dari tahun 2001 hingga 2014 saat dirinya pensiun. Dengan catatan 858 penampilan, ia menghabiskan hampir seluruh karirnya bersama Inter dan dia juga menjadi pemain dengan raihan trofi terbanyak bersama seragam ini. Total, ia memenangkan 16 trofi, yakni: lima Scudetto, empat Coppa Italia, empat Super Coppa Italia, satu UEFA Cup, satu Liga Champions dan satu Piala Dunia antar Klub. 4 Mei 2015, Inter memutuskan mempensiunskan nomor punggung empat.

Source: Inter.it

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here