Presiden Inter, Erick Thohir secara eksklusif berbicara kepada Tempo.co dan membahas tentang fokusnya saat ini yang terpecah antara mengurusi Inter dan juga Asian Games:

Sejak mengurusi Asian Games sepertinya Anda mulai jarang mengurusi Inter?
“Kesibukan mengurusi Asian Games membuat saya harus mundur dari beberapa perisahaan saya, kecuali sebagai Presiden Direktur ANTV dan Presiden Inter. Saya tak bisa mundur dari Inter karena dilarang pemilik saham lain. Dulu saya bisa setiap bulan ke Milan, namun sekarang sudah tidak. Terakhir kali saya mengunjungi Milan adalah pada April lalu. Saya baru akan kembali bertemu tim pada 27 Juli nanti saat tim menghadapi Munchen di Singapura, besoknya saya harus kembali ke Jakarta.”

Kapan Anda minta mundur?
“Kata-katanya bukan mundur. Saya katakan saat rapat pemilik saham bahwa saya tidak bisa seaktif dulu karena kesibukan Asian Games. Mereka jawab, it’s OK. Ada dukungan dari Suning Group, sebab, Liu Jun, CEO Suning, dan Stevan Zang ada di Milan untuk urusan sehari-hari. Mereka bilang masih butuh visi saya untuk Inter. Tapi saya tidak tahu apakah tiga atau enam bulan lagi ada perubahan. Yang jelas, prioritas saya saat ini adalah menyukseskan Asian Games.”

Hal apa saja yang masih Anda bahas bersama petinggi klub lain?
“Jual-beli pemain. Pengurus memberi nama berikut datanya. Saya beri masukan. Tapi tidak lagi sampai mewawancarai calon pelatih seperti dulu. Tidak ada waktu lagi.”

Apa alasan Anda melepas mayoritas saham tahun lalu?
“Persaingan klub-klub Eropa semakin tinggi. Jual-beli pemain nilainya sampai triliunan rupiah. Maka saya perlu rekan. Saat ini yang sedang aktif di sepak bola ya China. Apalagi, dari 250 juta fan Inter, lebih dari 100 juta di antaranya di Cina. Inter juga menjadi klub Eropa pertama yang berlaga di China, pada 1974. Ada sejarahnya. Jadi, ada mutual benefit. Saat penawaran Suning Group mau menjadi pemilik mayoritas, ya, tidak apa-apa, asalkan untung. Bukan hanya keuntungan buat saya pribadi, tapi juga klub. Buktinya, budget dari Suning untuk klub meningkat tiga kali lipat.”

Mengapa dalam empat musim terakhir prestasi Inter melorot?
“Namanya sepak bola, kita hanya bisa meminimalkan risiko. Tapi hasilnya, tidak ada yang tahu. Manchester United yang belanja besar-besaran juga tidak masuk empat besar di Liga Primer Inggris. Sepak bola selalu naik-turun. Tapi saya yakin, secara manajemen, klub-klub seperti AC Milan, Inter, dan Juventus punya sustainability karena punya sejarah dan fan besar, sehingga pemasukan besar.”

Bagaimana dengan hasil musim lalu?
“Tentu sedih, melihat hasil tak sesuai ekspektasi. Sedih juga untuk fans. Tetapi itulah sepak bola, harus berimbang antara hasil di lapangan dan luar lapangan.”

Source: Tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here