Matthaus: 4 Tahun di Italia Bersama Inter Adalah Yang Paling Berkesan Dalam...

Matthaus: 4 Tahun di Italia Bersama Inter Adalah Yang Paling Berkesan Dalam Karir Saya

BAGIKAN

Menjadi bintang tamu dalam program Memorabilia yang tayang di Inter Channel, legenda tim, Lothar Matthaus berbicara tentang banyak hal mengenai petualangannya di Italia bersama seragam hitam biru:

“Saya selalu bermain untuk menang. Bahkan kala masih memperkuat Bayern Munchen, bedanya di sana jauh lebih mudah karena hanya ada segelintir rival saja. 30 tahun yang lalu di Italia ada lima hingga enam tim yang berjuang untuk meraih gelar yaitu Juventus, AC Milan, Napoli bersama Maradona serta Sampdoria dengan Mancini dan Vialli. Saya tahu Inter memiliki tim dan pelatih yang bagus sehingga yakin bisa merebut Scudetto.”

Brehme –
“Saya berbicara kepada manajer Inter kala itu dan menyarankannya untuk mendatangkan Brehme karena saya menilai dia adalah salah satu pemain yang tangguh. Kemudian dalam laga menghadapi Leverkusen, kami memantaunya dan kemudian pihak klub memutuskan untuk memboyongnya ke San Siro dan benar saja, banyak hal yang bisa ia berikan untuk Inter.”

Bermain dengan hati –
“Saya datang ke Inter untuk menang. Di tim kala itu dihuni oleh banyak pemain hebat seperti Zenga, Bergomi, Serena, Bianchi, Berti dan banyak lagi. Namun kami tidak sendiri karena Milan juga dihuni banyak pemain hebat. Namun kami bermain dengan hati dan itu menjadi faktor penentu kami memenangkan gelar kala itu.”

Italia –
“Memutuskan hengkang ke Italia bukanlah keputusan mudah. Saya harus berhadapan dengan suasana yang serba baru, namun bekerja bersama Trapattoni dan staff-nya adalah sebuah hal yang sangat menarik, terutama untuk mengerti mentalitas orang-orang Italia. 

Nomor punggung 10? Saya sebenarnya lebih menginginkan nomor 6 atau 8, nomor yang saya gunakan di Munchen. Nomor 10 di Italia kala itu dikenakan oleh pemain sekaliber Platini dan Maradona. Namun karena nomor 6 dan 8 sudah dipilih oleh pemain lain, maka pada akhirnya saya memilih menggunakan nomor 10 tersebut.”

San Siro era 90-an yang jadi rumah bagi Jerman (Piala Dunia) –
“Memainkan 5 laga di San Siro jadi bonus bagi kami di Piala Dunia kala itu karena fans Inter datang untuk menyemangati kami. Di laga final, saya menyuruh Andy (Brehme) mengambil tendangan penalti karena saya mengalami masalah dengan sepatu yang saya gunakan dan tidak merasa percaya diri. Ia mengambil tanggung jawab itu dan berhasil mencetak gol yang sealigus memastikan kemenangan kami.”

Golden Ball –
“Tanpa tim ini dan tanpa para pemain hebat itu, saya tidak akan memenangkan gelar Golden Ball tersebut. Itu adalah gelar yang saya persembahkan untuk rekan-rekan saya.”

Penurunan – 
“Usai memenangkan UEFA Cup 1991, kami mengalami pergantian besar-besaran. Beberapa pemain dan pelatih pergi dan kami tidak bisa mendapatkan kembali kontinuitas dalam bermain. Para pemain juga kehilangan ketenangan mereka, pun begitu dengan pihak klub.

Ajang Piala UEFA 1991 sangat berkesan bagi saya. Saya merasa beruntung karena selang satu tahun usai memenangkan Piala Dunia di Olimpico Roma, saya bisa kembali mengangkat piala di stadion tersebut bersama Inter.”

 

Derby –
“Menghadapi Milan adalah sebuah laga derby besar. Saya memenangkan 3 dari 5 laga yang saya lakoni. Mereka memiliki banyak pemain hebat, namun menghadapi kami, mereka selalu kesulitan karena kami bermain dengan hati. Trapattoni melarang kami memainkan umpan-umpan pendek, jadi saya sangat jarang menyentuh bola di lini tengah. Ternyata penggunaan taktik itu sangat tepat .”

Maradona –
“Maradona mengatakan saya adalah lawan paling sulit yang ia hadapi di lapangan? Saya merasa tersanjung akan hal itu. Saya bermain di 5 Piala Dunia dan berhasil memenangkan gelar tersebut. Saya juga bisa bermain di banyak posisi, namun selalu berada di tengah lapangan untuk mendistribusikan bola.”

Hubungan dengan rekan satu tim –
“Saya masih sering melakukan kontak dengan mereka, terutama Serena. Saya juga bertemu dengan Bergomi dan Zenga dan kami masih sering berbicara. Kami berpelukan saat bertemu. Saya 21 tahun berkiprah di sepakbola, namun 4 tahun di Italia bersama Inter adalah yang paling berkesan.”

Kenangan dengan fans –
“Saya adalah bagian dari sejarah Inter. Saya pernah menjadi simbol dari tim ini dan itu adalah perasaan yang luar biasa. Italia berbeda dari Jerman. Di New York misalnya, ketika saya bertemu fans sepakbola Jerman, mereka hanya sekedar menyapa saja, sementara ketika bertemu fans yang berasal dari Italia, ia menyapa dan menghampiri saya dengan hangat. Sangat berbeda. Itu adalah hal yang menyenangkan. Saya dan fans Inter adalah sebuah keluarga besar.”

Source: FCInter1908.it

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY