Apa Yang Harus Dilakukan Inter di Paruh Musim Kedua Ini?

Apa Yang Harus Dilakukan Inter di Paruh Musim Kedua Ini?

BAGIKAN

Apa kabar Interisti?

Sebelum membahas klub kesayangan kita bersama, izinkah saya mengucapkan Selamat Tahun Baru 2017 untuk Anda semua. Semoga Anda dan klub kesayangan kita mendapatkan hal-hal yang lebih baik lagi tahun ini.

Well, mengakhiri tahun 2016 dengan duduk di posisi tujuh klasemen sementara Serie A bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, terlebih oleh klub sekelas Inter. Namun pengecualian mungkin harus kita berikan untuk I Nerazzurri. Karena seperti yang sama-sama kita ketahui, di tiga bulan pertama Serie A 2016/2017, Samir Handanovic cs., dihantam beraneka masalah sehingga harus tertatih-tatih di papan tengah klasemen dan mengalami krisis hasil. Nahasnya, semua masalah itu muncul akibat sejumlah masalah yang melanda internal klub.

Hal ini seakan menjadi cermin bagi kita semua, bahwa musuh terbesar Inter dalam beberapa musim ke belakang bukanlah para rival macam AC Milan, AS Roma ataupun Juventus, melainkan diri sendiri. Mulai dari pergantian pelatih yang terlihat tidak terencana dengan baik, friksi antara pihak manajemen dengan agen pemain, konflik kapten klub dengan Curva Nord 69, samarnya sosok mana yang menjadi decision maker atas segala sesuatu yang dibuat klub dan masih banyak hal lain yang tak bisa saya sebutkan satu per satu.

Kembali ke lapangan, progresi positif ditunjukkan Inter selama kurang lebih satu bulan terakhir. Kedatangan Stefano Pioli sebagai nakhoda anyar klub menggantikan figur asal Belanda, Frank De Boer, membawa angin segar untuk tim yang bermarkas di Stadion Giuseppe Meazza ini.

Setidaknya, dari delapan laga (enam di Serie A dan dua di ajang Liga Europa) di bawah asuhan Pioli, Inter sukses memenangi lima laga, dua kali seri dan hanya keok satu kali. Bisa dikatakan, torehan ini sangatlah apik. Akan tetapi, performa memble yang ditunjukkan Inter di awal musim membuat mereka masih tercecer.

Sejauh ini koleksi poin yang diraih Inter baru mencapai 30 angka, hasil dari sembilan kemenangan, tiga kali imbang dan enam kali tumbang, Selisih poin dengan Juventus yang duduk nyaman sebagai capolista pun membentang sebesar 12 angka. Akan tetapi, dan mungkin jadi satu-satunya hal positif yang bisa dipetik walau Inter terdampar di peringkat ketujuh adalah selisih angka dengan Napoli yang nangkring di posisi ketiga klasemen sementara sekaligus batas akhir lolos ke Liga Champions musim 2017/2018 “cuma” lima poin saja.

Namun jangan lantas berharap Napoli, AC Milan dan Atalanta (yang beriringan menempati peringkat tiga sampai enam) bakal menurun performanya di paruh kedua musim ini. Yang lebih penting adalah berharap agar Inter tidak kembali menurun penampilannya. Tentu sia-sia bukan jika tiga tim itu performanya menukik tapi Inter sendiri ikutan anjlok. Keberuntungan memang bisa menaungi siapa saja, tapi tanpa didahului kerja keras dan upaya kuat, mayoritas juga tak membuahkan apa-apa.

Lalu, apa yang mesti diperbuat Inter jelang paruh musim kedua yang telah menanti di depan mata? Setidaknya saya merangkum tiga hal yang mesti diperbuat oleh Mauro Icardi dkk.

1) MEMBENAHI SKUAT

Sukses meraih hasil-hasil positif di beberapa laga Serie A terakhir, di tiga pertandingan pamungkas sebelum jeda Inter bahkan mengemas angka sempurna usai menang dari Genoa, Sassuolo dan Lazio, jelas sebuah hal yang wajib disyukuri. Namun itu tidak berarti bahwa Inter sudah benar-benar oke walau para pemain andalan tampak meningkat performa dan kepercayaan dirinya.

Skuat Inter yang terlalu besar merupakan sebuah masalah tersendiri. Bagaimana tidak, 29 orang pemain menjejali skuat sementara yang bisa dimainkan tiap pekannya maksimal hanya 14 orang saja. Belum lagi Inter kini cuma mentas di dua ajang, Serie A dan Piala Italia, pasca tersingkir dengan sangat memalukan dari Liga Europa dua bulan silam.

Berkaca pada situasi ini, manajemen harus pandai-pandai melihat celah dan mengambil keuntungan saat bursa transfer musim dingin dibuka. Saya meyakini bila staf pelatih dan manajemen pasti telah mengevaluasi siapa saja pemain yang tidak perlu dipertahankan.

Dengan berbagai metode, baik peminjaman atau langsung dijual, manajemen harus jeli memanfaatkan situasi. Karena dengan merampingkan skuat, tim juga dapat menekan riak-riak yang seringkali muncul dari pemain, agen atau pihak-pihak tertentu yang mempertanyakan soal jatah bermain yang kurang. Hal semacam ini tentu bisa mengganggu keharmonisan tim.

Apalagi saya juga meyakini bahwa Pioli pasti akan meminta pihak manajemen untuk mendatangkan beberapa pemain yang dirasa olehnya sesuai dengan sistem permainan kesukaannya sekaligus membenahi kelemahan tim yang selama ini kerap terekspos.

Tanpa harus saya paparkan satu demi satu, pasti Anda sudah membaca beraneka berita soal transfer yang selama beberapa hari terakhir lalu-lalang di website nerazzurriale.com, bukan?

Namun yang pasti, membenahi skuat, utamanya dalam merampingkan isinya, adalah hal yang tak bisa ditunda-tunda lagi. Karena untuk mengarungi dua kompetisi saja, idealnya hanya dibutuhkan 23-24 orang pemain.

2) MENINGKATKAN PERFORMA

Tiga kemenangan beruntun plus selalu cleansheet memang sebuah pertanda yang sangat baik. Tapi apakah itu cukup? Maka dengan tegas saya akan berkata, tidak!

Pencapaian tersebut akhirnya sanggup mengembalikan kepercayaan diri dan mental tim yang sempat amburadul. Namun bukan berarti Interisti tak boleh meminta Pioli untuk meningkatkan performa tim. Justru itu adalah keharusan.

Paruh musim kedua adalah fase yang amat krusial dalam sebuah kompetisi. Mengapa? Karena di titik inilah akan tampak tim-tim mana saja yang konsisten. Lebih jauh, fase ini merupakan titik di mana semuanya akan berakhir sehingga kelak akan diketahui siapa yang menjadi juara, tim mana yang sukses menggenggam tiket ke Eropa maupun klub-klub yang harus rela didegradasi.

Hal itu membuat setiap kontestan akan melakukan pembenahan guna meningkatkan performa. Jika ingin tetap bersaing, maka hal serupa juga harus dilakukan Inter supaya target yang disasar tak meleset lagi.

Dari sekian laga yang dilalui Inter bersama Pioli, hasil yang diraih memang cukup positif. Akan tetapi masih cukup banyak lubang yang harus segera ditambal.

Silakan tanya kepada diri Anda, sudah seberapa meyakinkan sektor belakang Inter tatkala digempur lawan? Tidak ingatkah Anda pada serangan kilat Lazio di pekan ke-18 lalu saat laga belum sampai satu menit? Apakah hal tersebut tidak membuat jantung Anda bergedup kencang?

Jujur saja, saya tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika yang melakukan serangan saat itu adalah Barcelona, Bayern Munchen dan Real Madrid, tiga kesebelasan nomor wahid di Eropa yang sangat efisien dan efektif dalam memanfaatkan setiap kans yang ada. Bisa jadi, Handanovic akan memungut bola dari gawangnya ketika itu.

Disisi lain, sektor depan Inter juga harus terus diasah agar mampu memanfaatkan peluang-peluang yang seharusnya menjadi gol. Efektivitas dan efisiensi macam ini diperlukan guna mengarungi liga yang tak mudah seperti Serie A, apalagi kompetisi ini amat mendewakan kemenangan.

Sektor depan yang subur takkan berarti apa-apa jika lini belakang yang digalang Joao Miranda dan Jeison Murillo kerap memble. Sebaliknya, ketangguhan wilayah pertahanan akan sia-sia andaikata Antonio Candreva, Icardi, Ivan Perisic atau para pelapis macam Gabriel Barboisa dan Eder Citadin tidak mampu memanfaatkan peluang yang didapat.

Untuk bertarung memperebutkan tiket lolos ke Liga Champions musim depan, Inter harus konsisten dan memiliki identitas permainan yang jelas. Karena tanpa dua hal tersebut, I Nerazzurri akan dengan mudah digoyang lawan-lawannya saat berduel secara langsung.

3) MENYERIUSI PIALA ITALIA

Barangkali hal ini agak absurd dan tidak memiliki korelasi jelas terhadap apa yang mesti dilakukan Inter di paruh kedua Serie A musim ini. Akan tetapi saya melihat bahwa kompetisi ini memiliki nilai tersendiri bagi Inter untuk diseriusi.

Merebut scudetto jelas bukan urusan ringan mengingat digdayanya Juventus sejauh ini, sehingga menyeriusi ajang Piala Italia adalah salah satu hal yang lumrah. Inter perlu mengambil sikap untuk tidak main-main guna merebut gelarnya yang kedelapan di kejuaraan yang menghadiahi juaranya dengan tiket otomatis ke Liga Europa musim berikutnya ini.

Gelar Piala Italia adalah hal yang sangat realistis. Lebih lanjut, bila Inter sukses menggondol trofi yang satu ini, setidaknya mental juara akan tertanam di dalam diri para penggawa yang praktis miskin prestasi ini.

Jangan buru-buru ngomel karena saya mengatakan hal itu, silakan Anda cek satu per satu isi skuat Inter yang ada saat ini lalu hitung berapa banyak pemain yang telah mampu meraih gelar bersama tim yang sedang maupun pernah dibelanya? Apakah jumlahnya mencapai 70%?

Andai Inter meraup sukses di ajang Piala Italia musim 2016/2017, setidaknya aka nada manfaat yang bisa dipetik dan bermanfaat di masa yang akan datang, yakni Inter memiliki pemain-pemain dengan mental juara dan jiwa petarung yang lebih ganas.

Petualangan Inter di Piala Italia 2016/2017 sendiri akan dimulai 17 Januari nanti dengan menjamu Bologna di fase 16 besar. Berlaga di kandang dengan format pertandingan yang hanya satu kali, laga baru akan menjadi home dan away saat mencapai semifinal, tentu sebuah keuntungan yang mesti dimanfaatkan.

Paceklik gelar yang telah dialami Inter selama beberapa musim perlu dihentikan sesegera mungkin. Tak peduli jika trofi itu hanyalah kelas dua. Karena juara tetaplah juara dan akan selalu dicatat dalam buku sejarah. Maka, seriuslah!

#ForzaInter

5 KOMENTAR

  1. Koreksi, hasil pertandingan dibawah asuhan pioli bukannya 2 kali seri dan sekali kalah. Dgn pioli, inter seri hanya dgn milan, kalahnya dgn napoli dan beer sheva.

LEAVE A REPLY