Seperti kata orang tua, kesabaran adalah bekal kesuksesan. Bersabar sesungguhnya adalah proses memahami kekecewaan sambil belajar darinya sehingga apa yang akan dilakukan bisa lebih baik. Bersabar juga bisa dimaknai sebagai bentuk kemampuan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal konyol ketika kita sedang dilanda nasib buruk. Sayangnya, Inter tidak (lagi) memiliki itu. Inter selalu punya alasan untuk tidak bersabar atas apa yang melanda mereka. Inter selalu memiliki hal (atau orang) untuk dijadikan dasar dan alasan atas ketidaksabaran mereka.

Saya, mungkin juga seperti Anda, mulai menyukai Inter ketika Ronaldo masih bermain di tim ini. Setahu saya, teramat banyak Interisti Indonesia yang jatuh cinta kepada Inter di era itu. Jika saya tarik sejak saat itu hingga hari ini, Inter teramat sering menunjukkan bahwa mereka bukan tim yang sabar.

Ketidaksabaran yang pertama adalah dalam hal membina pemain. Inter sesungguhnya mampu menelurkan banyak pemain potensial, yang sayangnya justru menetas dan berkembang di tim lain. Andrea Pirlo, direkrut tahun 1998, bermain 22 kali, selanjutnya dipinjamkan ke Reggina dan Brescia, dan akhirnya bergabung ke Milan, memenangi seluruh gelar yang bisa ia raih, dan menjadi salah satu geladang terbaik dunia. Leonardo Bonucci, 2005-2007 bermain untuk tim Primavera Inter, kemudian promosi ke tim senior untuk kemudian dipinjamkan ke Treviso dan Pisa. Kini, ia menjadi bagian penting Juventus dan timnas Italia. Selanjutnya ada Mattia Destro. Saya selalu menyebutnya “The DESTROyer” ketika bermain Football Manager dulu. Sayangnya, setelah 5 tahun berada di tim muda Inter, ia dilepas untuk menjadi bagian dari pembelian seorang bek masa depan Inter, timnas Italia, bahkan dunia sepak bola pada umumnya. Ya, seperti dugaan Anda, Destro ditukar dengan Andrea Rannocchia. Last but not least, ada nama Philippe Coutinho. Dibeli tahun 2008, ia baru benar-benar bisa bergabung dengan Inter 2 tahun kemudian saat usianya 18 tahun. Moratti sempat menyebutnya sebagai “masa depan Inter”. Tak langsung mendapat tempat di skuat peraih treble, Coutinho dipinjamkan ke Espanyol. Digadang-gadang sebagai penerus kejayaan Wesley Sneijder di lini tengah Inter, Cou malah dijual dengan harga murah meriah jika kita bandingkan dengan kualitasnya sekarang di Liverpool.

Pemain-pemain yang sudah saya sebutkan tadi, sesungguhnya bisa jadi tamparan untuk Inter yang tak sabar. Jika belum cukup, mari bahas masalah pelatih. Entah sudah berapa banyak pelatih yang dipecat Inter. Yang paling menarik tentu Gian Piero Gasperini. Ia dipecat saat Inter baru melakoni 5 pertandingan resmi yang 4 diantaranya berujung kekalahan dengan 1 hasil imbang melawan Roma di liga. Belakangan, mencuat kabar bahwa ada ketidakcocokan antara Gasperini dengan manajemen masalah kegemarannya memasang formasi dengan 3 bek. Padahal, itu adalah strategi andalannya saat menukangi Genoa.

Yang terbaru, hal semacam ini menimpa Frank de Boer, seorang Belanda yang sempat membawa Ajax berjaya. De Boer, yang baru ditunjuk beberapa hari menjelang kick off musim ini, meminta 4 bulan untuk membentuk kembali tim ini sesuai keinginan dan filosofinya. Sayangnya, waktu 4 bulan tak diberikan. De Boer hanya bertahan sebulan dan kembali menyulut ketidaksabaran Inter. Ia dipecat, namun banyak pihak menyatakan itu bukan salahnya. Inter lah yang tidak sabaran. Lah, bukannya Inter memang selalu begitu, ya? Pecat pelatih, tunjuk pelatih baru di waktu yang mendesak, pelatih baru mengatakan itu bukan timnya dan minta waktu sekian bulan untuk membentuk tim, sebulan tak sesuai target, pecat lagi. Begitu seterusnya.

Ketidaksabaran memang memerlukan kambing hitam untuk ditunjuk saat kegagalan datang. Inter tentu selalu punya itu. Jika pihak manajemen senang mengkambinghitamkan pelatih dan menggantinya di tengah jalan, tifosi punya jalan lain. Mereka (termasuk saya barangkali) lebih suka mengarahkan telunjuk kepada para pemain. Target terbarunya adalah duet center back dan wingback Rannocchia dan Nagatomo. Jika Inter menemui hasil buruk (bahkan bagus sekalipun) dan 2 orang ini bermain, akan muncul cuitan dengan nada menghina keduanya. Saya sesungguhnya menunggu dengan harap bahwa kita, Inter dan Interisti bisa menunjuk hidung sendiri dan berkata, “Ini salah kami.”

Menyalahkan, mengkritik, atau apapun itu bentuknya, tentu bertujuan baik. Pemain, pelatih, manajemen, bahkan tifosi sendiri harus bisa menerjemahkan kritik sebagai sebuah niat untuk membangun. Pemain jangan manja, jangan pula terlalu arogan. Mereka mesti sadar bahwa mereka (bersama pelatih) adalah ujung tombak tim. Tirulah apa yang dilakukan Dortmund dulu misalnya. Ketika tim mereka terpuruk di zona degradasi, selepas pertandingan, pemain akan mendatangi supporter dan berdialog dengan mereka secara baik. Jangan lagi ada friksi antara supporter dengan pemain. Jangan lagi ada tifosi yang melempar baju pemain yang kemudian dibalas dengan biografi oleh sang pemain. Semua tentu bisa didialogkan. Bersabarlah.

Demikian juga manajemen. Bersabarlah. Prestasi tentu akan datang selama ada rencana jelas dan pelaksanaan yang berkesinambungan. Beri waktu bagi pelatih yang telah ditunjuk. Jangan berharap prestasi bisa diraih dengan cara instan. Prestasi bukan mie rebus. Terakhir, untuk saya sendiri, saya tidak punya kritik karena mencintai Inter bagi saya bukan sebuah kesalahan.

Oleh: Agus Mahendra | @Agus_Mahendra_

SHARE

5 COMMENTS

  1. Setujuuu,,,tp toh bukan cmn fans saja yg mencibir pemain kalau pemain bermain buruk. Pelatih jg demikian, bahkan tak segan2 membekukan pemain beberapa lama. Krn dalam hidup, menyalahkan lebih gampang drpd mengakui kesalahan. Ya itulah drama dalam sepak bola, boleh mencak2 tp nda usah baper. Krn kita tetap akan menonton Inter berlaga dipertandingan berikut2nya. Sampai membuang jersey, itu mah kekanakan. Walaupun besar cinta kita akan tim, tp mau bagaimana lg begitulah yg terjadi. Kita menjadi presiden klub pun, blm tentu bisa merubah. Jadi, SABARLAH seperti kata author. Nikmatilah, sebentar lg toh inter akan jadi klub bertabur mega bintang asalkan bebas dari sanksi FFP dan berlaga di liga champion. Forza inter.

  2. Setuja, entah sjak kpn ane mulai jdi tifosi inter ane g tau, mungkin sejk lahir drah udah biru hitam, heee
    tpi bgitulah inter sejak dlu, gonta ganti pelatih, pemain keluar mazuk kayak ingus aj..

    tpi walaupun seret prestsi akhr akhr ini, ane akan slalu jdi tifosi inter sampai kapanpun.
    FORZA INTER!!!

  3. menurut saya pribadi.. ini karena banyak nya fans yang tidak senang dengan kekalahan.. yg berakibat tekanan pada club. dan akhirnya club pun mengambil keputusan terlalu cepat.

  4. filosopi menguasai pertandingan harus dibuang jauh jauh.. kecuali sebuah tim telah bersama bertahun tahun.
    filosopi inter yang terbaik menurut saya adalah counter attack. yang diperlukan tentu kualitas center bek dan full bek kelas dunia, dibantu juga dengan minimal 2 orang DM sekekas thiaggi motta dan cambiasso. karena 2 orang DM inilah kunci counter attack.
    untuk sayap harus memiliki pace di atas rata – rata serta akurasi umpan yang tinggi.
    permainan inter paling hebat menurut saya saat dilatih mancini jama dulu lalu mourinho.
    pernah ibra mengatakan “kami bisa membuat gol kapan pun kami mau”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here