Baiklah, saya muak dengan semua ini, tahun ke-0 dua kali dalam satu musim? Penunjukan Mancio beberapa waktu lalu tidak membuat saya bahagia, bagaimana tidak, masih terngiang betapa cengengnya dia pasca kekalahan di Liga Champion melawan Liverpool pada waktu itu, musim terakhirnya! Itu katanya. Tapi ya sudahlah, toh keputusan manajemen tetap saya dukung. Hasilnya tidaklah buruk, La Beneamata meraih E(u)ropa lagi, bukan dengan permainan menawan, tapi satu gol yang terus berulang, akhirnya mendulang poin demi poin.

Ketika Suning perlahan masuk, dan memberikan angin segar (baca: dana), kembali Interisti berangan tinggi tentang siapa pemain yang akan mengenakan kostum kebesaran kita semua, Biru Hitam! Namun bak petir di siang bolong, Suning mempunyai titik yang berseberangan dengan Mancini yang terlihat sangat jauh di titik yang lain. Akhirnya sebelum awal musim, tahun ke-0 pertama kembali kita rasakan. Memang muak (baca: MUAK!), melihat kisruh politik internal klub yang terjadi menyeret garis prestasi yang sudah mulai tampak.

Frank de Boer (FdB), oke, tidaklah buruk untuk melihatnya mengambil nahkoda bahtera yang hampir terlanjur berjalan. Prestasi pelatih yang tergolong muda pun tidak kalah mentereng. Juara beruntun di Ajax Amsterdam dan tahu apa yang membuat gelar tersebut lebih manis lagi? Lihatlah skuat yang ia gunakan untuk menggapai trofi-trofi tersebut! Mimpi Erick Thohir (dan Suning tentu saja) untuk membangun pondasi tim lewat akademi mengaburkan tahun ke-0 yang terulang. Hampir di setiap lini ada pemain muda yang potensial, (Eloge) Yao, (Assane) Gnoukouri, (Senna) Miangue, atau bahkan (Gabriel) Barbosa, yang terakhir disebut sebagai salah satu rekrutan panas pada bursa yang lalu.

Terbukti memang, jika kita menyampingkan hasil buruk yang diraih, permainan Inter terbukti menyerang. Jarang sekali sejak saya Interisti dari medio 90, melihat permainan Inter seperti itu. Pakem Inter bertahan bung! Pertahanan lah yang selalu populer mulai dari Il Mago Herrera era kakek-ayah kita masih muda sampai The Special One Mou, Inter selalu bermain dengan pakem tersebut. Bahkan saya terkaget ketika melihat permainan Inter pada awal-awal musim ini.

Tapi dalam permainan, kemenangan lah yang umumnya dicari dan klasemen menunjukkan hal tersebut. Simpati saya kepadanya sangatlah besar, sama besarnya seperti ketika Mancio ditunjuk lagi untuk menukangi Inter kita yang tercinta ini. Tapi telunjuk saya arahkan kepada mereka yang berada di belakang layar. Mereka mencoreng muka Inter, muka kita semua, muka mereka sendiri, entah kalau mereka masih menganggap mereka bagian dari Inter atau tidak. Nama besar FdB sebagai pemain pun tidak ada harganya, seperti hilang begitu saja jika melihat bagaimana para bos diatas memainkan perannya.

Sekarang semuanya kembali ke tahun ke-0 (lagi). Kali ini tahun ke-0 untuk yang kedua dalam musim ini. Entah siapa yang mereka tunjuk nantinya. Melihat situasi ini, saya pun akhirnya membalik pandangan saya terhadap nasib (Gian Piero) Gasperini, (Claudio) Ranieri dan (Walter) Mazzarri. Mereka gagal di Inter bukan karena mereka sendiri, tapi atas “suara suci” dari atas yang mencoreng curriculum vitae mereka, dan sekarang FdB.

Nasi sudah menjadi bubur. Singkatnya waktu FdB tidak menghalangi saya mencintai permainan yang diperlihatkan tim ketika dibesut dia, semoga masih bisa bertemu di Inter yang lebih waras.

Benarlah tulisan si Budi tempo hari, kita, err……bukan, mereka (manajemen dan para pemain), tidak mau menunggu proses. Mungkin mereka kira Roma dibangun dalam semalam, mungkin mereka kira bayi bisa langsung berlari, mungkin dan kemungkinan yang lain terbesit dalam benak ini.

Kalau saya mengutip celoteh dari Sia, Sempreinter, “Result wise sacking Frank is understandable. Hiring him and letting people laugh at him and Inter is what’s wrong.”

Ditulis dengan tergesa-gesa

Dunia Maya, November 2, 2016.

Oleh: @LennonNMe

8 COMMENTS

  1. Saya gag sependapat dgn tulisan ini, okelah ada kata2 dari manajemen bahwa hubungan dgn frank baik2 saja. Itu gunanya menciptakan kondisi yg kondusif pada iklim eksternal inter, untuk mengedalikan tulisan2 pedas media yg mencari sensasi dibalik situasi inter. Tp sayangnya frank tdk memanfaatkan itu dgn baik.
    Inter memiliki nama besar, wajarlah ekspektasi yg tinggi ditanamkan hampit setiap org yg mencintai inter. Pelatihlah yg menjadi sorotan dibalik permainan sebuah klub, itu wajar layaknya orang tua menjadi sorotan atas tabiat anaknya. Walaupun tdk semuanya menjadi kesalahan org tua, tp tetap org tua lah yg memikul tanggung jawab itu, dan hanya org tua yg pintar yg dapat mengendalikan itu.
    Frank mulai hilang kepercayaan dari anak asuhnya, dan para interisti tau nama2 tsb tanpa perlu saya sebutkan. Hal itu nengindikasikan frank blm mampu menjadi org tua yg mampu memanaje sepenuhnya anak asuhnya. Krn sepak bola bukan hanya masalah strategi permainan, tp bgmn menciptakan suasana yg dapat membangkitkan hasrat bermain maksimal dari pemain.
    Inter sering mengganti pelatih, wajarlah itu krn harapan besar sang pemilik yang telah bersusah payah mengeluarkan dana, dan haruslah sebanding dgn pencapaian tim. Knp inter lebih gampang memecat pelatih? Dibanding memecat beberapa pemain, lebih gampang memecat pelatih agar kerugian tdk terlalu besar. Kata2 ini saya dapatkan dari seorang ahli analisis sepak bola (lupa namanya) yg mengomentari kasus mourinho atas situasi chelsea pada musim lalu.
    Skrg sepak bola menjadi lahan bisnis itu krn dgn hal itu keberlangsungan finansial suatu klub tetap terjaga. Krn sekaya-kayanya pemilik klub, tetap ada keinginan modal yg dikeluarkan bisa kembali baik dari segi modal itu sendiri, maupun dari segi kebanggaan. Jadi wajarlah pemilik menaruh harapan tinggi. Itu suatu keadaan psikologis yg lumrah. Apalagi skrg inter dimiliki oleh pengusaha tajir, tentu harapan mereka lebih tinggi dari harapan moratti beberapa musim lalu. Dan mereka tau inter sdh memiliki pondasi bagus, bukan memulai dari 0, wajarlah pemilik baru menginginkan kondisi yg lebih meningkat. Krn sunning melanjutkan tongkat estafet dari moratti dan thohir, bukan membeli klub yg baru mau tumbuh atau baru promosi dari Seri B. Jd tdk ada kata dimulai dari awal. Inter adalah tim yg sudah besar, jd tidak tepat disamakan dgn perumpamaan roma tdk dibangun dgn waktu yg singkat.
    Harapan manajerial inter, agar inter bisa terus stabil dalam berlaga, hal itu dilatarbelakangi keinginan agar stadion GM selalu mendekati kata full dgn penonton. Dan target liga champion, krn semua org tau berapa harga tiket liga champion dibanding liga domestik. Dan lagi kembali ke masalah keuntungan finansial. Ingat FFP yg menggeluguti inter? Kalu inter tidak segera perbaiki neraca finansial, bgmn bisa sunning mendatangkan seorang aguero atau suarez yg digadang2 menjadi target inter. Krn aturan uefa skrg layaknya aturan bisnis. Jadi kembali dgn kata WAJARLAH sang pemilik mengatur keuangan dgn cara bisnis pula. Inter skrg dimiliki oleh pebisnis internasional, yg bukan hanya menopang dagu di apiano dan melihat perkembangan pemain saat latihan. Semua ada pada kendali pelatih. Terima Kasij.

  2. Forza inter……selama dua dekade saya sudah jd interisti berawal dari ronaldo brazil masuk ke inter…..sy melihat inter sebagai club yg menginginkan hasil instan…..dalam bbrp hal seperti pergantian pelatih dan pembelian pemain….. setiap pelatih baru masuk…..membeli pemain baru dan hasil tidak memuaskan….pelatih di ganti lagi….dan beli pemain baru kembali sesuai keinginan pelatih baru….setiap tahun seperti itu…..kita tdk menyalahkan inter berbuat demikian rupa…..karena di italia….hasil yg terpenting…..tidak seperti liga lain yg sabar memberikan waktu untuk pelatih meracik dan memadukan tim…..alhasil prestasi jeblok dan selalu berulang…….di 2005 mancini masuk di saat juve sedang terkena kasus calciopoli…..dan juga bbrp tim terkena dampak…..hanya tinggal inter saja yg terkuat di antara tim lain…..dan saat itu mancini di berikan waktu pun berpas2an tim lain sedang down……jika inter tidak seleksi memilih pelatih sesuai pemain yang ada saat ini…..akan seterusnya terjadi jual beli pemain dan nol prestasi…..semoga ke depan inter bisa bersabar membangun proyek layaknya juventus setelah promosi….bertahap membangun tim tanpa memgharapkan hasil instan……jika pandangan saya berbeda mohon maaf sblmnya…..forza inter

  3. come on bro. situasi di inter memang sedang rumit, dan itu mengganggu keseluruhan klub. ada banyak keinginan yang tidak sinkron, tidak jelas siapa yang menjadi raja di inter sekarang, apakah zhang atau thohir atau petinggi lainnya. sangat berbeda dengan era moratti, sy tidak ingin bicarakan mana yang lebih baik. karena semua fans punya pandangannya masing-masing, sama dengan alasan kita semua menjadi interisti, ada banyak. jika suning serius dengan proyek di inter sudah saat nya memperjelas manajemen, rencana klub, kebijakan transfer, dan hubungan dengan fans dan ultras. tapi yang lebih sederhana, yang saya yakin hampir semua interisti setuju adalah libatkan lebih banyak pemain dan mantan pemaian yang betul-betul mencintai inter.

    dan terima kasih banyak untuk pengelola website nerazzurriale.com yang selalu merangkum info tentang inter. forza inter.

  4. Saya pikir beberapa pilihan jelas. Jika mau sepakbola instan layaknya klub London, Paris atau klub Manchester, tunjuk pelatih yang bisa menjadi magnet merekrut nama besar. Kutipan twit dari Sia, sudah cukup menggambarkan betapa gegabahnya manajemen menunjuk pelatih. Selain itu keputusan seperti perpanjangan Mazzarri, atau penunjukan kembali Mancio juga sudah menjadi bukti.

    Berpendapat wajar pemilik mengatur ini dan itu, hal itu juga akan berbanding lurus antara prestasi lapangan dengan apa yang akan mereka tuai nantinya. Thohir maupun Suning bukan pemain baru di dunia olahraga. Mereka harusnya bisa memilah bagaimana resiko finansial yang dapat ditolerir, yang berbanding lurus dengan prestasi. Mana kerugian yang justru akan mendatangkan keuntungan, dan sebagainya. Jangan sampai prestasi Moratti terulang, treble tapi buruk finansial. Jatuh ke kubangan lumpur.

    Proyek Mourinho-Chelsea dan Inter jelas jauh berbeda, pemain busuk di tubuh Inter sudah jauh lebih lama, sama lamanya dengan Mourinho meninggalkan tubuh Inter mungkin. Sedangkan Mourinho, dengan menyingkirkan dia, Chelsea jauh lebih berhemat dibanding sekaligus membuang para pemainnya, dan perlu dicatat setahun sebelumnya mereka juara. Tidak mudah langsung memutuskan mengeksodus para pemain yang tidak perform. Tapi Inter? Tidak perlu menjadi analisis handal untuk membangun tim, cukup dilihat dari beberapa aspek; apakah ingin berfilosofis terhadap gaya pelatih, atau mendatangkan pelatih yang bisa mengakomodir pemain.

    Adapun tulisan ini dibuat untuk menunjuk kisruh politik yang berada pada belakang layar manajemen Inter. Mencoreng citra Inter kembali seperti era awal Massimo Moratti dulu.

    Berandai untuk mempertahankan Mancini jelas lebih bagus dibandingkan menunjuk FdB yang bahkan tidak tahu iklim sepakbola Italia. Ingin menang besar jangan tunjuk FdB dari awal; Ingin memakai produk akademi, jangan tunjuk selain FdB. Kira-kira semudah itu kesimpulannya.

  5. Sekedar ingin menambahkan tulisan yg diatas saya, mgkn kekalahan 6-1 dari totenham terlalu menyakitkan, sehingga mancini didepak. Tp kesalahan mendepak mancini, terletak pada waktu dmn pada saat itu nama2 pelatih pada bursa kepelatihan, kurangnya nama2 pelatih WOW. Dan kayaknya hanya frank de boer yg mau menerima kontrak dgn durasi pendek (sampai 2019). Krn salah satu target inter yakni simeone ada di apiano pada musim depan atau 2 musim depannya. Kita sbg interisti mgkn hanya bisa melihat dari layar kaca, tp terbesit doa dan harapan besar sebelum inter berlaga. Jadi wajarlah saya sbg interisti sangat sakit apabila inter kalah, apalagi kalah dgn tim kecil dan bermain buruk pula. Walau dlm sepak bola, kalah menang itu hal biasa. Saya pernah baca komentar, kalau mau dukung tim yg slalu menang, sana jadi pendukung barca atau madrid. Sorry, interisti seperti saya mgkn mencak2 atau teriak2 saat inter kalah, tp niat meninggalkan inter sangat mustahil krn walaupun emosi, pasti ada keinginan melihat inter berlaga lg pada pertandingan berikutnya. Krn cinta yg besar akan menimbulkan sikap posesif.

  6. Kalo seandainya fdb gak dipecat dan terus terusan kalah. Rela liat inter di posisi zona degradasi? Liat lah dari berbagai posisi, gak cuma bisa bilang “perlu waktu, perlu waktu”

    • Analisisnya mantap, tapi sayang ada kata “kalau” pada awal kalimat. Tentu tahu Pochettino? Berapa waktu yang diperlukan sebelum Tottenham hingga seperti sekarang? Allegri musim lalu dengan Rube nya hampir jatuh ke zona degradasi pada tiga bulan awal kompetisi. Rijkaard sebelum membawa Barcelona gelar demi gelar, beberapa pekan awal bahkan seburuk Inter permainannya, padahal ada Ronaldinho disana. Dan masih banyak lagi jika anda ingin saya sebutkan pengalaman pelatih yang baru seumur jagung di klub namun membawa prestasi.

      Manajemen (dan fans tentunya) harus tahu konsekuensinya, FdB bukan Mourinho, bukan Ancelotti, bukan Guardiola, dengan sederet gelar prestisius mereka, yang memang pantas diberi beban. Manajemen, baik Thohir maupun pihak Suning memecat Mancio karena tidak setuju dengan proyek “pemain berpengalaman” dia; sebut Toure, Kolarov, Lichsteiner, dan lainnya, pemain yang sudah mulai berumur bukan? Mereka mendatangkan FdB karena proyek pemain muda bukan? Mereka harusnya tahu konsekuensinya. Memecatnya pada permulaan musim seperti ini hanya mencoreng nama baik Inter, tidak hanya itu, dari sisi ekonomi jangka pendek, neraca pasti beralih negatif karena harus membayar gaji pelatih tersebut. Tidak beda dengan Moratti pada awal masa kepemimpinannya.

      Lagi pula liga belum selesai, kalaupun di zona degradasi bukan suatu posisi akhir. Lagi pula bukan berarti tidak bisa mencapai zona UCL.

      Tulisan Budi beberapa waktu lalu jelas menggambarkan pilihan, mana yang harus Inter (dan Interisti) pilih, bersabar dengan pilihan adaptasi, proses, proses, dan proses; atau memang “menyewa mercenary” seperti klub-klub yang telah ter-Arab-kan, atau ter-Rusia-kan

  7. Setuju dengan artikel ini yang menyebutkan bahwa inter dibangun dengan kultur permainan pola pragmatis dan pertahanan yang kuat. Bisa diliat dari fakta bahwa pola menyerang tidak cocok dengan kultur inter. Attacking football versi Lippi rasa italia pun gagal total ketika melatih inter. 0

    Membahas tentang proyek ET untuk orbit pemain muda produk asli inter. Sepertinya? Belum terbayang. Tapi jika melihat fakta, Faktanya banyak menemui kegagalan, banyak pemain muda bertalenta “tak berkembang” tapi malah menjadi pemain yang sukses ketika keluar inter menjadi pemain top. Jika disebutkan terlalu banyak produk inter yang sukses di tim lain atau bahkan di tim rival. Satu yang menjadi keunggulan inter adalah para scout pencari bakat yang piawai mencari bibit pemainnya. Tapi kembali ke kultur, bahwa inter kurang beruntung (gagal total sih ngga) dalam hal menghargai proses berkembangnya pemain muda. Era Tardelli inter banyak memainkan pemain muda karena mungkin inter berpikir bahwa Tardelli bisa sukses membawa italia U21 meraih gelar juara. Tapi di inter?? Era Tardelli inter di cukur enam goal tanpa balas oleh tim rival sekota. Frey, Matteo Ferrari, Farinos, Dalmat, Gresko sebagian pemain muda yang ada di skuad inter pada waktu itu.

    Hector Cuper (bapak ranking 2) mengusung pola pragmatis yang hampir memenangkan scudetto. Mancini tidak pragmatis justru dulu terkenal pola “tik tak satu dua sentuhan” tapi kenapa sekarang jadi pengusung gaya lamban. Haha
    Mourinho mah Cocok dan pas.

    Penyakit management inter mah kayanya kambuhan. Dari pas awal jaman Moratti 95 udah ada. Selisih paham berujung pemecatan, kurang tegas dll. Bahkan Simoni aja dipecat begitu liga baru bergulir sepekan. Hadeuh

    Berharap sejarah atau periode buruk dan kurang beruntung itu jangan terulang. Dari scudetto 13 ke 14 nunggu 17 tahun untuk tim besar sekelas inter itu terlalu lama 🙁

    Semoga kedepannya inter berkaca pada periode yang buruk. Agar proses dan lainnya tidak memakan waktu yang sangat lama banget seperti dahulu. Dan jangan menimpa ke era sekarang. Sebagai Interisti saya akan sabar hehe. Tap jangan kelamaan kaya mendapatkan scudetto ke 14 ya inter. Hehe
    Pengalaman adalah guru terbaik 😀

    #ForzaInter #Amala

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here