Internazionale Milano, Masalah dan Kemauan Untuk Berproses

Internazionale Milano, Masalah dan Kemauan Untuk Berproses

BAGIKAN

Photo by Pier Marco Tacca/Getty Images
Photo by Pier Marco Tacca/Getty Images

Apa kabar Interisti, sehat?

Satu kemenangan, satu hasil imbang dan lima kekalahan di tujuh laga kompetitif terakhir sudah pasti mengganggu ketenangan jiwa Anda sebagai tifosi setia dan mungkin, fanatik. Hal ini wajar kok, suporter mana yang tidak kecewa melihat performa klub favoritnya amburadul seperti itu.

Sosok Frank De Boer (FdB) pun dituding Interisti sebagai biang keladi merosotnya penampilan I Nerazzurri di atas lapangan. Mulai dari pemilihan strategi yang buruk, keengganannya memakai jasa Gabriel Barbosa, sampai lambannya proses adaptasi terhadap iklim sepak bola Italia. Tapi, benarkah ini mutlak kesalahan pelatih asal Belanda tersebut? Well, mengarahkan telunjuk sembari menyalahkan FdB adalah hal yang paling mudah dilakukan Interisti.

Benar memang jika FdB, atau bahkan Roberto Mancini, Walter Mazzarri, Andrea Stramaccioni, Claudio Ranieri, Gian Piero Gasperini, Leonardo dan Rafael Benitez punya andil atas “kekeliruan” dalam meramu taktik sehingga Inter mudah ditumbangkan (selama beberapa musim terakhir). Akan tetapi selalu menyalahkan pelatih saat Inter kerap dirundung hasil-hasil minor justru bentuk kebebalan yang teramat sangat.

FILOSOFI DAN SISTEM PERMAINAN –

Setiap pelatih memiliki filosofi bermain yang dianut dan diyakini, hal ini bisa lahir dari pengalaman yang didapat semasa bermain sebagai pesepakbola ataupun hal-hal metodis yang dipelajari selama kursus kepelatihan. Kasarnya, ini seperti Interisti yang hanya mencintai Inter sebagai klub favorit dan tak bisa berpaling ke lain hati.

Melalui filosofi yang diyakini itu juga, para pelatih akan merancang sistem permainan bagi tim yang dibesutnya. Akan tetapi mengimplementasikan hal tersebut bukanlah perkara mudah karena butuh proses adaptasi dan koneksi dua arah (pelatih ke pemain dan pemain ke pelatih).

Mari ambil contoh kasus Yaya Toure dan Josep “Pep” Guardiola semasa keduanya masih membela Barcelona. Semua orang tahu jika Yaya adalah pemain yang berkualitas namun mengapa Pep lebih memilih Sergio Busquets ketimbang gelandang asal Pantai Gading tersebut? Alasannya simpel, karena Pep merasa yakin bahwa Busquets adalah pemain yang pas untuk berperan sebagai gelandang #6 sesuai dengan filosofi dan sistem permainan yang dianutnya. Hasilnya? Lemari trofi di stadion Camp Nou kebanjiran silverware selama keduanya berkolaborasi.

Kasus di atas menunjukkan satu hal, bahwa memiliki skuat yang sesuai dengan filosofi pelatih merupakan hal mutlak bila sebuah tim menginginkan kesuksesan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Sir Alex Ferguson kala menukangi Manchester United selama dua dekade atau Arrigo Sacchi ketika membentuk tim impian AC Milan di akhir 80-an dan awal 90-an. Tak perlu heran bila ada pemain yang rewel dan beringkah di era Fergie atau Sacchi, mereka tak segan-segan untuk langsung menendangnya.

Memang benar seorang pelatih pasti punya segudang taktik di sakunya, hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi lawan yang berbeda-beda. Namun bagaimanapun bentuknya dan sefleksibel apapun ia, hal itu takkan melenceng jauh dari filosofi yang dianut pelatih tersebut.

Lalu bagaimana dengan, FdB?

Ditunjuk dua pekan jelang Serie A musim 2016/2017 bergulir tentu bukan urusan sepele. Dengan kondisi tersebut, FdB tak punya banyak waktu beradaptasi. Bahkan untuk sekadar menguji pola main yang diusungnya, FdB hanya punya satu kesempatan yaitu laga ujicoba melawan Glasgow Celtic. Sialnya di momen itu juga, FdB tak bisa mencoba seluruh penggawa Inter lantaran ada yang masih menjalani pemulihan cedera atau mendapat dispensasi libur yang lebih panjang usai membela negaranya di ajang Piala Amerika maupun Piala Eropa.

Alhasil FdB hanya bisa memainkan skuat yang tersisa, hal ini juga membuat dirinya kesulitan melakukan evaluasi secara menyeluruh. Ujicoba lanjutan pun mau tak mau diterapkan FdB saat Inter terjun di laga kompetitif Serie A maupun Liga Europa. Melihat kondisi seperti ini, apakah FdB sepenuhnya bersalah?

Pasca ditunjuk sebagai allenatore anyar, FdB menyatakan bila dirinya butuh waktu setidaknya empat bulan untuk membangun Inter yang sesuai dengan filosofinya. Sekiranya ini persis dengan apa yang dilakukan Pep bersama Manchester City musim ini. Bedanya pelatih berkepala botak itu memiliki waktu yang cukup untuk membangun skuat yang pas dengan filosofinya, mengevaluasi kekurangan dan kelebihan tim serta melakukan ujicoba sistem permainan yang ingin dikembangkan sebelum turun di kompetisi resmi.

Saya tak menjadikan ucapan FdB perihal waktu yang dimintanya itu sebagai pledoi namun kenyataannya, dirinya memang tak memiliki previlise, setidaknya seperti yang didapat Pep (sebagai contoh yang saya gunakan).

Tapi apakah dengan menggonta-ganti pelatih di setiap pertengahan musim akan selalu menghasilkan sesuatu yang positif?

MATERI SKUAT –

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, kebutuhan akan skuat yang mumpuni dan dibangun sesuai filosofi pelatih merupakan salah satu kunci sukses sebuah tim. Bagaimana mungkin seorang pelatih bisa merancang tim yang solid jika pemain yang dipunyai tak sesuai dengan idenya.

Masih ingatkah Anda pada kasus perseteruan David Beckham dengan Sir Alex Ferguson yang berujung dengan penjualan sang megabintang ke Real Madrid? Walau punya kelas dan tergolong pemain istimewa, saat itu Sir Alex merasa jika Beckham tak lagi masuk rencananya, maka membuangnya adalah cara terbaik.

Lalu bagaimana dengan FdB kini? Bukankah manajemen telah mendatangkan Ever Banega, Gabriel Barbosa, Antonio Candreva dan Joao Mario guna meningkatkan performa Inter di atas lapangan? Mungkin pertanyaan itu bakal langsung menyeruak di kepala Anda.

Tapi bagaimana jika kita balik pertanyaannya. Apakah Banega, Gabigol, Candreva dan JM adalah pemain pesanan FdB? Bila saya tidak salah ingat, terutama Banega dan Candreva adalah permintaan khusus pendahulu FdB, Mancio.

Bila di Ajax Amsterdam yang secara kertas lebih inferior dibanding Inter saja FdB bisa sukses, kenapa dengan skuat yang lebih mentereng dirinya tidak mampu? Mungkin itu pertanyaan lanjutan yang bakal muncul di kepala Interisti.

Sekali lagi, adalah kebodohan bila Interisti coba membandingkan Ajax dan Inter. Mengapa? Di klub berjuluk De Godenzonen itu, filosofi bermain khas Belanda sudah ditanamkan sejak usia dini. Sehingga pemain-pemain di seluruh jenjang (junior sampai senior) memiliki corak permainan yang seragam. Maka FdB yang juga jebolan akademi Ajax, tidak akan merasa kesulitan mengembangkan idenya yang memang satu warna dengan klub.

Sementara di Inter yang punya kultur berbeda tentu butuh penanganan yang berlainan pula. Sehingga wajar bila FdB meminta pihak klub untuk memboyong pemain-pemain yang sesuai dengan filosofi yang diusungnya. Jika itu dianggap oleh para Interisti sebagai ketidakmampuan FdB dalam menyesuaikan diri, mari kita intip sedikit contoh dari Mancio.

Musim lalu, berapa kali Anda mendengar Mancio meneriakkan kebutuhan akan pemain kreatif yang punya kemampuan mendistribusikan bola dan mengatur tempo? Hal itu dilakukannya sebab Mancio butuh sosok dengan kemampuan tersebut untuk mengimplementasikan ide-idenya. Sayangnya pihak manajemen bergeming dengan menyebut Financial Fair Play (FFP) sebagai kendala.

Dengan skuat seadanya itu, mau tak mau Mancio juga bermain seadanya. Play wide and cross the ball to the box seolah jadi permainan textbook yang diterapkan meski sejatinya, itu jadi satu-satunya pilihan yang paling relevan. Tentu Anda bakal lebih mencak-mencak bukan jika Mancio menerapkan strategi dinosaurus ala klub-klub Liga Inggris dengan memainkan bola direct dari sektor belakang atau bahkan kiper langsung menuju penyerang di lini depan?

Dengan gaya seperti itu, mematahkan permainan Inter bukanlah hal yang sulit dilakukan oleh kesebelasan manapun. Disaat Anda menghujat Mancio, Anda juga tak memberi solusi apa-apa, bukan? Bila Interisti sekalian mengapungkan nama Marcelo Brozovic atau Geoffrey Kondogbia sebagai solusi, barangkali Anda perlu menelaah lagi tipe permainan keduanya yang jelas-jelas bukan gelandang kreatif.

Lebih jauh, seberapa sering Interisti mencaci nama-nama seperti Danilo D’Ambrosio, Yuto Nagatomo, Andrea Ranocchia dan Davide Santon sebagai pemain kelas tarkam? Lalu ketika D’Ambrosio, Naga serta Santon dimainkan bergiliran di sektor fullback tiap pekannya atau Ranocchia turun ke lapangan lantaran satu diantara Joao Miranda dan Jeison Murillo berhalangan tampil kemudian main buruk, Anda tetap menyalahkan pelatih?

Jika ya, tolong berikan opsi lain yang relevan dan bisa dipertanggungjawabkan kala pihak klub tak menyediakan sosok lain bagi Mancio saat itu maupun FdB sekarang ini. Tanyakan kepada diri Anda sebagai Interisti, apa pembenahan yang sudah dilakukan manajemen untuk sektor belakang yang ringkih itu di dua musim terakhir?

Sudah seberapa sering juga Interisti menyatakan jika skuat Inter saat ini hanya diisi pemain-pemain kelas medioker? Kalau sudah begitu, jangan heran bila semuanya jadi serba sulit, bagi pelatih maupun kita yang menonton.

MANAJEMEN –

Ketika menunjuk FdB sebagai pelatih anyar menggantikan Mancio, sudahkah manajemen mempertimbangkan baik buruknya? Sebagai Interisti, Anda juga perlu menanyakan hal ini.

Pasalnya, melakukan pergantian pelatih hanya dua pekan jelang kompetisi bergulir sungguh jauh dari kata ideal. Seperti yang saya singgung di bagian sebelumnya, persiapan Inter sudah pasti tidak berjalan maksimal. Dengan persiapan yang tidak maksimal, kemungkinan-kemungkinan untuk dihajar kegagalan juga semakin besar.

Lebih jauh, pernahkah Anda mencoba bertanya, dalam hati sekalipun, siapakah pemegang kuasa di Inter saat ini? Siapakah orang yang punya kekuatan untuk jadi pengambil keputusan? Zhang Jindong atau Erick Thohir? Sehingga bila terjadi chaos, setidaknya kita tahu kepada siapa meminta pertanggungjawaban.

Pasca diakusisi Suning Group beberapa bulan lalu, bisa dikatakan tak ada stabilitas sama sekali di dalam tubuh tim ini. Ada begitu banyak riak yang muncul dan mengganggu performa tim. Padahal, kestabilan dibutuhkan kesebelasan manapun agar target-target yang disasar bisa diraih sehingga klub tak keluar dari trayek yang seharusnya ditempuh.

Lebih jauh, manajemen yang sehat jadi syarat mutlak bagi kesebelasan manapun untuk meraih sukses. Sementara di kubu Inter, hal ini masih jauh panggang dari api. Mengontrol para pemain saja sulit dilakukan manajemen, khususnya yang berkaitan dengan hal-hal diluar lapangan hijau. Akibatnya, Inter yang memang sudah sakit sejak musim 2011/2012 kesulitan bangkit.

Berkali-kali pula manajemen berkata jika mereka sedang menyusun proyek besar untuk membangkitkan Inter. Tapi proyek macam apa? Bila itu berkaitan dengan skuat, mengapa manajemen tak berusaha memboyong pemain yang dibutuhkan pelatih sesegera mungkin? Jika berurusan dengan pelatih, mengapa manajemen begitu mudah melakukan pemecatan demi pemecatan?

Interisti boleh menyebut bila Suning Group tengah berproses untuk membenahi semuanya, dari segi finansial hingga teknis. Tapi sudah adilkah Anda jika disaat yang sama tidak melakukannya kepada pelatih-pelatih yang membesut I Nerazzurri?

Sudah menjadi keniscayaan apabila waktu dan kesabaran dibutuhkan untuk membangun sebuah kesebelasan yang solid. Jangan berkhayal jika semuanya bisa dilakukan hanya dengan sekali mengedipkan mata. Sepak bola bukan sulap, membangun sepak bola butuh kontinuitas yang dalam prosesnya mungkin membuat kita berdarah-darah.

Untuk bisa kembali menjadi Inter yang tangguh, I Nerazzurri butuh waktu berbenah yang mungkin saja memakan periode panjang. Barcelona saja memerlukan proses panjang, diawali oleh kedatangan Cruyff sebagai pemain lalu pelatih untuk kemudian menurunkan ilmunya kepada Pep, hingga akhirnya bergelimang kesuksesan dalam satu dekade terakhir. Tak ada yang namanya prestasi instan.

Bila Anda menyebut nama Manchester City, silakan googling berapa banyak uang yang mesti dikeluarkan demi menggantinya dengan beberapa trofi. Toh, diawal akuisisi Sheikh Mansour, City juga tidak langsung berevolusi jadi tim yang menakutkan.

Sulit memang mengakui kesemenjanaan yang lekat dengan Inter saat ini, tapi begitulah kenyataannya dan mesti Anda terima. Jika Anda tidak siap ketika FdB, para pemain hingga manajemen berproses, sebaiknya Anda berhenti mendukung Inter terlebih dahulu. Dukung saja nanti kalau sudah bisa mencomot trofi demi trofi. Itu jauh lebih mudah untuk diperbuat.

Bila ada yang ingin Interisti sampaikan, baik pro ataupun kontra perihal artikel ini, bisa dituangkan di kolom komentar kok.

Salam. #ForzaInter

59 KOMENTAR

  1. Setuju dgn artikelnya. Semuanya butuh proses, tidak ada yang instan. Kalaupun ada yang instant, maka hal tersebut tidak akan bertahan lama, hanya sebuah kesukesan sesaat.

  2. Setuju, hanya butuh bersabar yg penting ada tujuan besar yang mau di capai, saya suka inter versi fdb yg lama saya tunggu inter main dengan penguasaan bola dan tempo cepat.. Ini cuma masalah waktu… Icardi captain? Belum saatnya? Dan mungkin dia butuh duet di depan bukan trio

  3. artikelnya bagus bgt

    menurut saya ngga ada yg salah sama fdb seperti yg agan bilang fdb baru dateng dan sama sekali buta tentang serie A,seharusnya manajemen membantu dan kali ini yg salah manajemen ga pernah mau sabar,jadinya kaya gini semuanya jadi terburu buru,seakan akan mengejar waktu dan malah jadi membuang buang waktu,pemecatan pelatih dan mulai dari 0 lagi,fdb pilihan tohir semoga suning grup sabar dan mau berproses sebagaimana seperti berbisnis,kita cuma bisa berdoa aja supaya semakin hari semakin baik
    #forzainter

  4. Penonton layar kaca emang sukanya membanding2kan. Termasuk saya. Sya termasuk yg ngedukung FdB ttap bertahan. Kesalahan ada pada kebijakan manajemen inter yg terlambat memecat mancini saat kompetisi bbrapa minggu akan dimulai. Justru malah keliatan aneh, Mancini dipecat krn hasil buruk di pertandingan pramusim. Mm atau mungkin karena keinginan Suning memecat Mancini, tapi harusnya bukan (FdB) pelatih pilihan Thohir.
    Kembali tentang mmbanding2kan, sya lebih suka FdB ketimbang Mancini. FdB sesuai dgn pemahaman saya (hehehe) klau Santon itu lbih baik drpd Nagatomo. Gnoukouri juga mainnya bagus dn memang hrusnya diberi bnyak ksempatan brmain. Klau Mancini sebaliknya.
    Platih yg sya inginkan dn (mungkin) dibutuhkan Inter adalah platih yg bisa memoles pmain jelek jadi pemain yg punya kntribusi besar utk tim. Siapa pemain jelek Inter? ….
    Yg paling gampang ya lihat skuad Inter wktu treble. Disamain aja. Skuad skrg sepadan ga sama skuad dulu? Maaf mungkin cara ini bnyak yg ga setuju. Tapi sdah ada buktinya treble winner. Misal, dulu punya Eto’o, speed oke. Skrg? Mungkin Gabigol. Dulu punya Cambiasso, Motta, umpan2 kreatif, intersep oke, bisa bantu serangan pake umpan2 ke depan. Skrg? Medel? Dia gabisa bantu serangan, cuma lari2 doang, intersep so so, heading juga kalah. Dulu idenya platih siapa beli Medel? Sya gatau. Klub2 besar eropa mnurut sya ga ada yg punya pemain yg kemampuannya spt Medel. Cmiiw. Klo bek sayap jelas harus beli pmain baru. Candreva mnurut sya bisa dipoles jadi Maicon wkwkwk -__- knapa enggak, Antonio Valencia dlu pmain sayap skrg jadi bek sayap. James Milner liverpool skrg jadi bek kiri.
    Sya masih percaya FdB. Kasih dia waktu semusim. Januari harus beli pmain ssuai keinginannya. Sisanya terserah stelah itu dipecat jga gpp gantinya harus Simeone. Interisti cuma bisa dukung dan doa biar Inter masuk zona Champions. Haha #forzaInter !

    Btw, terima kasih atas tulisannya dn sudah diizinkan mnulis di kolom komentar 🙂

  5. Saya sudah belasan tahun jadi fans setia Inter dan sudah kenyang merasakan naik turunnya inter.. saya sangat sepakat bahwa untuk membangun tim perlu waktu yang tidak sebentar, dan kelemahan Moratti dahulu adalah tidak sabarnya dia untuk mempercayakan pelatih dalam waktu lama. (praktis keputusan terbaik dia adalah ketika menunjuk Mourinho). Kalau saya lihat Erick Tohir termasuk orang yang berpikir sama seperti anda, dan saya pun termasuk yang setuju dengan ide anda, bahwa FdB pasti bisa berhasil di Inter asal diberi waktu setidaknya sampai Januari dan kita pun harus bersabar. Dan satu lagi harus ada kekompakan di Manajemen (ET, Suning Bolingbroke, Zanetti, Ausilio, Gardini) untuk bisa satu suara mempertahankan FdB

  6. Prettt Sotoy LU, Hasil Yang Penting Filosofi Menang, Kalau Kalah Percuma Mau main lebih bagus dari Barcelona kalau Kalah dan Terjerembab di Dasar Klasemen. Nungguin Inter Degradasi Baru Ganti De Boer, Tolol AMat LU!!!!

  7. Kalau ane sih kesalahan ada pada medel dan manajemen yg tdk mencari DMF kelas wahid. Saat bek sayap naik membantu serangan, medel tdk kelihatan menutup posisi lubang yg kosong. Dia lamban dalam merespon kmn serangan balik akan mengarah. Dari segi fisik, dia memang kurang tinggi dalam fight bola heading. Kalau soal strategi, sy nda tau apa icardi di patok pada titik yg sama saat menyerang atau icardinya masih kurang pintar mencari posisi yg bebas saat pergerakannya di kunci oleh bek lawan. Icardi malah terlihat membuat bek lawan untuk bertumpuk di depan gawang. Seharusnya dia bisa membuka ruang untuk eder, perisic ataupun candreva bergerak menusuk ke gawang lawan, agar serangan inter tdk monoton dan tdk mudah terbaca oleh lawan. Saran agan yg diatas agar inter mengganti dari trio menjadi duo kayaknya bagus, perisic dan candreva agak lebih mundur spya bisa sedikit membantu pertahanan, dan apa salahnya mencoba gabigol sbg tandem icardi untuk mengacaukan pertahanan lawan. Palacio, jovetic dan biabiany bisa jd solusi dalam pemilihan tandem icardi selain gabigol.

    • Iya, makanya mancini dari musim kemarin pengen skali Yaya Toure ada di Appiano Gentile. Krn dia jg merasakan inter butuh DMF kelas dunia untuk menyeimbangkan permainan.

  8. Tulisan super tololll wkwkwkwk,bangun woyy inter penyakitan dari tahun 2012 sekarang udah tahun 2016 banguuuun, proses terus tiap tahun, liad musim kemarin skuad seadanya mancini bisa bawa peringkat 4 , bandingin sama skuad sekarang yg jauh lebih bagus, ancurnya inter musim ini gara2 si thohir yg terlalu arogan thdp mancini dan milih pelatih yg sama skali g tau seluk beluk liga itali, boro2 ngelatih, merumput di itali aja kaga pernah, jd ancurnya inter ya karna si thohir tolol, kluar aja dah itu org dr inter, myak gw liad mukanya fuck u

    • yang tolol itu elu, kenapaga elu aja yg jadi pelatih, baru jadi pendukung layar kaca aja udah bnyak celoteh , giliran ketemu ama thohir baru diem lu, pndukung inter bukan ? apa pndukung merda?

  9. Tidak ada yang instan kalimat yang paling tepat min
    Mie instan saja harus melalui berbagai proses *gak perlu dijelaskan prosesnya* agar bisa dinikmati apalagi sebuah tim sepakbola seperti Inter
    Intinya percayakan saja kepada manajemen, dan pelatih saat ini yang pasti berharap hal terbaik untuk Inter dan fans setianya yang selalu mendukung (menghujat) saat kalah maupun (tersenyum girang) saat menang
    #ForzaInter #Fdb

  10. Untuk yg beranama asu di atas saya… keliatan kalo anda pemikirannya dangkal, hanya bisa berkomentar kasar, dan ga berbobot
    Bisakah anda memberi atau membuat analisis yang masuk akal untuk dibaca pembaca lain ?

  11. “Jika Anda tidak siap ketika FdB, para pemain hingga manajemen berproses, sebaiknya Anda berhenti mendukung Inter terlebih dahulu. Dukung saja nanti kalau sudah bisa mencomot trofi demi trofi. Itu jauh lebih mudah untuk diperbuat.”

    Semoga itu 3 kalimat cuma sarkasme. Karena bila tidak, maka itu 3 kalimat sungguh bukan ucapan yg pantas. Tidak saja menyuruh Interisti diam dan berhenti mendukung Inter, tapi juga mengabaikan perasaan batin tidak hanya Interisti hore2 di Indonesia yg terlalu banyak protes. Tapi juga mengabaikan fakta bahwa Ultras Inter cabang Italia telah lebih keras ber-reaksi terhadap blunder manajemen-pelatih-pemain.

    Terakhir,mohon di-ingat baik2 semboyan ini:
    “Non basta essere bravi bisogna essere i migliori.”

  12. Sebaiknya Erick Thohir melepaskan jabatannya sebagai presiden!! Serahkan saja pada pihak yang mengerti sepakbola. Bicara inter, maka serahkan kepada yang mengerti sepakbola italia dan kultur inter. Erick Thohir fokus saja ke bidang lain, bisa seperti sektor financial atau bisa pada sektor lainnya.
    Saya yakin Massimo Moratti pun sewaktu meraih kejayaan inter tak lepas dari berkaca pada periode inter dibawah komando presiden Giacinto Fachetti dimana pengambilan putusan (mengangkat pelatih dan pemain yang sesuai dan cocok) tentu karena tak lepas dari pengetahuan Fachetti sebagai mantan kapten sekaligus legenda inter. Grande inter 2010 tak lepas dari fondasi yang diberikan beliau (Fachetti). Salut buat fans sekaligus presiden inter pada waktu itu Massimo Moratti, yang meneruskan fondasi dari era presiden Fachetti.
    Jadi untuk saat ini, demi kebaikan inter. Tanpa mengurangi rasa hormat sebaiknya ET, diperiode berikutnya meletakkan jabatannya sebagai presiden inter, berikanlah dan legowo lah, berikan kepada orang yang telah mengerti inter, kultur didalam inter, dan sepakbola italia. Kita sebagai tifosi tetap bangga kepada ET sebagai salahsatu pemegang saham di inter.

    JASMERAH 1989-2006 penantian scudetto yang ke empat belas!! Haruskah inter mengulanginya?
    FORZA INTER

    • gue sedikit setuju bro cuma disini peran Zanetti harus di besarin berikan dia tanggung jawab seperti Fachetti dalam arti sebagai Wakil Presdir dia harus lebih aktif dan ambil kebijakn sbg Presiden jadi Tohir hanya perlu memikirkan kebijakan keuangan.

      Forza Inter

  13. Lebay..

    Allegri aja latih Juve keadaannya sm kaya inter ketika FdB gantiin Mancini kok.

    Disini yg salah adalah manajemen, kenapa ga diturutin aja kemauan Mancini? Malah ambil resiko tinggi rekrut de boer yg timnya di liga belanda aja diperkosa PSV dan track record di UCL buruk.

    Blm lagi bodohnya manajemen dengan memberikan ban kapten ke Icardi yg notabene bom waktu bagi Inter. Lalu tidak dijualnya Brozovic dan Icardi ke Juve atau Napoli yg akibatnya hancurnya kondisi ruang ganti pemain.

    Coba liat Juve, biarpun pemain tersebut hebat tp klo sdh minta pindah ya dikasih biarpun ke pesaingnya. Knp? Supaya ruang ganti diisi oleh pemain yg benar2 fight untuk Juve.

    Ini Icardi sdh minta pindah malah di keep dan dinaikin gajinya, Brozovic jg tetap di keep tp ga dimainkan krn alasan yg sama…

    Mau ulang episode Guarin?

    Plis lah kesalahan inter ini berawal dr kebodohan manajemen, diikuti oleh sentimen pelatih dan pemain maka hasilnya ya sesuai harapan klo nyungsep..

  14. Ya, saya setuju dengan artikel ini. Menurut saya, memecat FdB berarti (manajemen) mencoreng wajah sendiri. Hrsnya manajemen (termasuk fans) memahami dan siap dengan resiko yg akan dihadapi dgn keputusan tsb. Terlebih lg pelatih yg ditunjuk adalah pelatih yg blm punya banyak pengalaman dan belum mengenal kultur sepakbola Italia. Sehingga butuh proses adaptasi yg lbh panjang. Jujur, ketimbang Mancio, saya lbh menyukai gaya melatih FdB yg tegas. Menurut saya, FdB layak diberikan kesempatan.

  15. Menurut Saya dalam hal ini memang kesalahan manajemen Inter dari Presidente yang tidak bisa stay di Milano.

    Penunjukkan FDB jelang 2 minggu menjelang kompetisi dimulai itu salah satu blunder manajemen karena tidak menunjuk pelatih asli Italia atau yang berpengalaman menangani tim Italia.

    Manajemen harus segera berbenah dalam Rapat Pemegang Saham apakah menunjuk Steven Zhang menjadi Presidente dengan syarat stay di Milano atau menyerahkan ke Javier Zanetti.

    Dari Segi Scouting Manajemen Inter HARUS segera merekrut Walter Sabatini untuk berduet dengan Piero Ausilio. Sudah terbukti Sabatini menemukan bakat-bakat brilian seperti Marquinhos, Erik Lamela, dan yang terbaru Leandro Paredes.

    Sektor Fullback memang untuk Inter pemain seperti Nagatomo D’Ambrosio harus dilego. Mateo Darmian bisa jadi solusi.

  16. Oke butuh waktu untuk berproses, but at least dari suatu pertandingan ke pertandingan lainya ada peningkatan -,-
    Kalo bakal gini gini aja ngapain nunggu sampe 4 bulan. Berproses okee tapi dilihat juga progress nya

  17. Nah ini artikel yg membuat pikiran Interisti terbuka.. Good artikel. Thank you Nerazzurri ale.saya Ijin share di grup ICI

  18. Kita sependapat bang budi!
    FdB punya ide yang jelas terhadap tim ini.
    Cuma inter harus kasih waktu aja.
    Lalu bagaimana dan apa yang harus kita lakukan agar inter tidak memecat FdB?
    Semoga manajemen inter membaca tulisan anda ini.
    Forza Inter!

  19. Pada dasarnya saya tidak akan berhenti atau bahkan tidak akan mampu untuk berhenti mencintai dan mendukung Inter, saya setuju FdB perlu diberi waktu tapi tolong kalaupun memang Inter harus kalah, harap kalah dengan penampilan yang TIDAK pantas untuk kalah, belakangan Inter terlalu sering kalah karena memang tim bermain layak kalah. Saya pikir tidak salah juga mengganti kapten tim demi mengurangi kontroversi dalam tubuh Inter, Tim butuh ketenangan serta kepercayaan dari banyak pihak termasuk fans… FORZA INTER

  20. Kg ada yg instan, ane stuju, kalo gitu knapa harus pecat mancini? Kalo ngomongin filosofi bermain, tunjukin management inter dan semua yg ada di Inter konsisten dengan filosofi yg diinginkan minimal 2 tahun, kalo ngga cocok baru dipikirkan ulang.

  21. Artikelnya sdh mantap.. menurut sy yg perlu d buat perubahan yaitu ganti sj si medel, ga bisa apa2 selain kesna kmri, liat si medel sj lari sdh kya ibu2 lari hamil 9 bulan sangat gemuk. Cba ganti dgn yg pintar passing d saat serangan sayap ngadat bisa ada yg passing Dr lini tengah sprti si anak emas lalu Kovacic atau yg paling mentereng gaet si Verrati.huhuii semoga sj ada keajaiban.. aaminn.. Forza inter

  22. Setuju dengan artikelnya, cuma yang saya khawatir respek pemain terhadap Fdb, masih ada apa tidak ? kalau sebagian besar pemain gak respek kepada pelatihnya, apa iya semua harus diganti lalu beli pemain yang sesuai dengan strategi Fdb! sekarang Miranda sudah ngeluarin unek-uneknya tentang garis pertahanan inter yang terlalu tinggi, kemudian Gabigol ngeluh waktu bermain yang sedikit, tinggal tunggu pemain lain keluarkan kritiknya.

    btw kalau sampai januari masih berproses begini, saya yakin banyak interisti juga gak bisa sabar lagi hehe

    • Beri waktu juga bukan berarti FdB bisa berleha-leha. Jelas butuh peningkatan dari laga ke laga. Tapi dengan segala kesulitan yang doi hadapi sejak gabung Inter, mulai dari kultur sepakbola yang berbeda, kendala bahasa yang perlahan mulai bisa ia pahami (dengan segala keterbatasan bahasa Italianya yang pasti), pemain yang sebenarnya lebih ke kebutuhan Mancini, waktu singkat kenal untuk mengenal pemain dan hanya dengan 1 laga uji coba saja yang dia dapatkan, menurut saya waktu 4 bulan yang ia minta dalam wawancara dengan Gazzetta dello Sport di awal musim rasanya layak untuk diberikan. Gak adil rasanya pecat doi sekarang dan memilih pelatih seadanya hanya untuk hingga akhir musim saja (dengan catatan tim benar dan bisa dapatkan Simeone). Kalau toh mengganti FdB hasil yang diraih sama saja (mungkin gagal mencapai target), maka Inter kembali mengulangi kesalahan mereka untuk kesekian kalinya.

  23. pemiliknya udah ganti,hobinya sama..mecatin pelatih
    Min apa yg sdh ente sumbangin untuk ngoreksi kebijakan manajemen?
    kyaknya mayoritas suporter udh paham msalah kesabaran,bagaimana dengan manajemen?

  24. 1998, Berawal dari Ronaldo (R9) ane cari info di klub mana dia main dan ternyata main di Inter Milan ane cari info lg Siapa itu Inter Milan dan dari situ juga ane mantepin hati sebagai Fans Inter Milan….bener kata status @Nerazzurri_Ale kalo ‘Supporting Inter means deciding to make your life more complicated’, ane ngalamin kala inter di bantai milan 6-1 nyesek sumpah, sampe skrng malah kalo diinget2 lg.
    Kondisi sekarang memang butuh kesabaran yg besar, Massimo Moratti jadi presiden thn 1995 dan dapet sukses besar tahun 2010 (15thn) lama memang, benar klo da yg bilang Inter Tim Besar yg sudah terlalu lama terpuruk, benar kalo skuad sekarang lebih bagus dari musim kemarin.
    Ayo temen2 Interisti biarkan manajemen dan FdB bekerja dengan tenang ane yakin mereka punya planning yg terbaik buat inter bisa bangkit lg walaupun “Media” memang tajem omongannya yg akhirnya mempengaruhi semuanya..hahah!!!ane juga bingung apa yg salah dari inter sampe skrng
    Apapun yg terjadi ane pribadi sampe kapanpun walaupun kmrn2 ada yg bilang mending degradasi ane tetep pilih INTER sebagai tim favorit ane dan walau INTER bangkrut sekalipun (pikiran gila ini) ane tetap bangga jadi Interisti, di sisi lain hati ini INTER udh punya tempat sendiri yg ga bakal bisa diganti oleh apapapun

    maaf kalo ga nyambung, cuma curhat aja ane…soalnya bingung apa yg salah dari inter

  25. Masalah inter mmg sudah sedemikian kompleks dan kronis.
    Sudah sangat lama jajaran manajemen digonta ganti,pemain2 yg dibeli juga terkesan hanya utk sekedar ikut berpartisipasi pada setiap bursa transfer. Ditambah yg paling horor melakukan pergantian pelatih 2 minggu sblm kick off serie a dgn mengangkat pelatih yg sama sekali minim pengalaman di italy.
    Sebagai interisti layar kaca sejak thn 98 ane lihatnya inter kembali seperti jaman sblm era mancini pertama dimana Inter sekedar beli pemain ini itu trus buang lagi beli lagi yg lain buang lagi dst (mutu,morfeo,kily,conceicao,van der meyde,gresko,ze maria,dst bisa dilanjutkan) sudah hampir mirip dgn saat ini (guarin,podolski,shaqiri,kovacic,coutinho,dst)
    Sebenarnya masalah pemain2 inter saat ini lebih ke masalah mental,psikis mereka gak sehat. Sering salah passing,sering out posisition,tidak ada passion. Sayangnya FdB gak fokus ke situ,dia lebih fokus ke bgm filosofi bermain.
    Opsi terbaik FdB dikasih waktu sampe bulan desember aja seperti kata dia butuh 4 bulan. Klo masi gini2 aja manajemen tinggal ambil keputusan, cari pelatih pengganti juga gak bisa asal2an. Bielsa dan Blanc mmg bagus dan berkarakter,tapi pasti mereka dtg bawa ide baru lagi,adaptasi dari awal lagi,sukur2 hasilnya langsung terlihat,klo minor lagi masa ganti lagi. Dari semua nama yg dirumorkan ane lebih prefer Leo. Inter saat ini butuh pelatih dg managerial skill yg lebih mumpuni ketimbang taktikal skill. Plus Leo punya pengalaman di serie a. Selain Bielsa,Blanc dan Leo lainnya medioker sih menurut ane. Sory klo salah menilai pelatih yg lain.
    Tentunya seluruh interisti akan ttp berteriak forza inter apapun keadaannya. Dan ane lebih suka kita teriak forza inter ketimbang teriak milanjuve merda.
    Forza inter per sempre!

      • Grazie mas bud, nice artikel. Hehehe,semua interisti di dunia suka kalimat terakhir itu. Tapi gak semua suka salam penutupnya 🙂

  26. Pada banyak yg gak suka medel. Menurut saya peran medel itu ya krusial, DM yg gak kenal lelah, tugas DM ya ngerebut bola bukan diliat dari kualitas passingnya

  27. Jangan pecat fdb dulu…biarlah dia berproses…ubah target yg tadi y zona champions ke uefa league…biarlah musim ini kita berbenah..untuk musim dpan ya yg lebih baik…toh sejak saya jd fans inter dr thun 1995…saya sudah mengerti penderitaan ya…jika inter gagal…semua ada fase..kita ingin mengulang memori 2010…jd biarlah fdb berproses dgn filosofi taktik ya…beri waktu dia pling tidak sampe akhir musim…

  28. Sebenarnya dengan memecat mancini saya sudah tau bagaimana inter musim ini, bisa masuk liga europa lagi saja sudah untung, saya tidak menyalahkan fdb tapi lebih menyayangkan keputusan manajemn yg memecat mancini di saat kompetisi mai di mulai, jadi klo inter seprti sekrang ya memang harus bersabar dan berharap manajemwn tidak melakukan kesalahan berulang sehingga proses membentuk tim tidak terus2 an terjadi

  29. Apakah ini kesalahan itu dan itu? Sy rasa Interisti paham akan proses, namun yg nmanya supporter dengan keadaan ini pastilah gregetan. Cinta itu terlalu besar sehingga kami Interisti sangat begitu gregetan dgn keadaan ini, seandainya bkn karena cinta, akan sangat gampang pindah ja. Kami hanya bisa memberikan masukan dan pertimbangan dgn banner di tribun dan opini di medsos, selanjutnya kami hanya bisa menunggu dan menunggu. Cara keras dan masif adalah pilihan, karena Interisti bkan dari satu kalangan. Mari tetap mendukung dgn cinta dan cerdas. FORZA INTER AMALA

  30. Artikel yg mantap Bung Budi, benar-benar bikin kita mikir apa yg salah di tubuh Inter. Inter bagi gw udah jadi pilihan hidup, walau sekarang udah jarang nonton Inter lagi, tapi percayalah kalian semua Doa dan harapan selalu ada buat Inter. Forza Inter!

  31. Klo menurut ane si, knpa bisa kygni ya karna manajemen inter itu sendiri, terutama presiden erick thohir yg mecat mancio cuma karna kalah 1-6 dari spurs wkt pra musim, dan ga mau nurutin pembelian yg mancio pengen. dy kira bangun tim kyk inter cuma sekilas balikin telapak tangan dgn nunjuk fdb yg ‘maaf’ minim pengalaman di italy, jujur aja ‘seandainya’ manajemen mau nurutin apa yg di mau mancini ‘mungkin’ inter masi bisa sedikit lebih baik dr musim lalu, ane ga raguin sama sekali kapabilitas mancio, bisa di liat dari doi pertama kali di inter, dy yg bgun pondasi tim, trs jg bisa di liat dari wkt dy di m.city, klub yg maaf td nya semenjana bs juara di premier league (ya biarpun uang dsna lebih kuat drpd inter, tp setidaknya inter musim lalu ga ancur2 bgt di tangan dy, ga prnah smpe peringkat 14 kyk skrg) Tp yasudahlah Mungkin masukan buat kita semua para interisti buat lebih sabar, belajar dr pengalaman, buat yg kemarin2 teriak mancini out, dampak nya ya skrg ini, ganti pelatih mendadak yg bikin efek tim ini blm siap! Dan buat manajemen juga kyknya cuma mentingin bisnis ketimbang proyek yg kata nya ‘proyek jangka panjang’ tp asal pecat pelatih, dan klo seumpama ganti pelatih lg hrs adaptasi pondasi tim baru lg itu ga akan jamin tim ini bs lebih baik lg.. mana ada yg kata nya proyek jangka panjang tp selalu ganti pelatih tiap pelatih itu ga sesuai sama yg di pengenin manajemen. Kekonyolan manajemen lg tim yg skrg adalah tim nya mancio, bukan tim fdb, jd bukan mutlak salah fdb krna filosofi cara melatih dan menerapkan ide mereka berbeda. Forza inter,, amala!!!

  32. Forza Inter !!! Kalau yang Interisti ud lama mungkin dengan kondisi sekarang akan lebih “mengerti” apa itu proses. Seperti yang ud pada komen sebelum nya. Moratti jg gak langsung juara. Sampai pada titik treble dulu. Sekarang kita di bawah lagi. Beda nya dulu opa datengin pemain berkelas, ada Paul Ince, Carlos sampai Ronaldo dan Vieri. Ibarat nya itu adalah pelepas dahaga (baca:keseriusan manajemen utk rebut scudetto) kalau sekarang mungkin fans tidak dapat itu. Perlu dicermati lagi dulu belum ada FFP, sekarang tim bola gak sekedar nendang bola, bergembira saja. Sepak Bola sekarang ud jadi Industri. Tapi kalau saya pribadi mendukung Inter bukan perkara angka di tabel klasmen. Silverware itu bonus, tapi biru-hitam di lapangan itu pride and soul. Semoga Interisti semua kompak paling tidak mendoakan tim ini menjadi lebih baik. FORZA INTER.

  33. Dari awal, FdB sudah terlanjur mempunyai begitu banyak beban berat di bahunya. Perihal waktu penunjukkan yang tidak ideal, kesempatan uji coba, mengenal kultur dan bahasa, mengenal pemain sampai meramu formasi yang paling tepat untuk diterapkan. Belum lagi masalah internal yang dia temui di tengah jalan. Kondogbia, Brozovic, Icardi bahkan Gabigol silih berganti memunculkan isu tak sedap yang sangat mengganggu kondisi klub yang kadung carut marut ini.

    Benar bahwa fullback adalah masalah utama Inter sejak beberapa tahun yang lalu Maicon meninggalkan rumput Giuseppe Meazza. Mungkin hanya Jonathan dan Nagatomo di era Mazzari yang ‘sempat’ menumbuhkan optimisme di tubuh tim. Meski impian memiliki fullback yang sepadan dengan Maicon dan Zanetti sampai saat ini pada akhirnya tak kunjung jadi kenyataan.

    Sialnya, pergantian pelatih yang berulang-ulang sama sekali tidak membantu. Butuh waktu yang tidak sedikit sampai setiap pelatih tersebut menyadari bahwa kita cuma memiliki starting XI dengan fullback inti sekelas pemain pelapis.

    Dan dengan didepaknya FdB, cerita lama ini akan terus menerus berulang.

  34. Agak kasihan dengan FdB kalau akhir musim nanti ia digantikan oleh simeone. dan saya merasa peluang simeone menukangi inter kecil kemungkinannya. So menurut saya sebagai fans inter dari SD (zaman ronaldo, adriano, martins hingga ibra) kasi kesempatan buat FdB setidaknya sampai 2018. Kenapa? seperti yang disebutkan di artikel atas, FdB datang di waktu yang kurang ideal. Sehingga mengimplementasikan filosofi nya menjadi tidak berjalan. mungkin beda cerita kalau FdB datang saat akhir musim 2015/2016. jadi kurang adil jika mendepaknya akhir musim walaupun hasil akhir musim tidak sesuai target. Beri FdB waktu ideal untuk membuat inter versi doi. Setelah itu silahkan beri penilaian.

  35. Komentar: Yang jelas dan perlu Suning dan Thohir perhatikan adalah : ini Inter, bukan Jiangsu. Dan ini adalah Inter bukan DC United.
    Jangan main-main lagi mengambil keputusan.

  36. Jane aku yo pingin komen ngunu..tapi ora isoh keucap

    Mantap ..ijin copas Mas Brow
    #forzainter

  37. aku setuju, sudah lebih dari 20 tahun aku mendukung inter, dan memang sudah sepatutnya kita untuk tak menyalahkan siapapun… yang perlu kita lakukan adalah mendukung dan mendukung.. hanya itu.. semoga inter kembali ke kejayaanya karena kita adalah satu-satunya tim italia yang mampu meraih treble winner.. forza inter.. ranocchia dan nagatomo.. dalam salam interisti..

  38. Interisti selalu mendukung apapun yg terjadi pada inter……dengan memberikan dukungan….otomatis club akan lebih semangat mengetahui fans selalu di belakang club…..lihat liga inggris……sekalipun jeblok prestasi….fans selalu datang ke stadion utk mendukung…..apapun hasilnya itu……setiap fans berhak kecewa dan mengeluarkan uneg2 apapun mengenai club…..karena itu dilakukan karena rasa cinta terhadap team kesayangannya…..mereka mau melihat teamnya baik……semoga inter bisa berkembang lebih baik dan menjadi team terbaik di italia lagi…..forza inter……

LEAVE A REPLY